Latest Entries »


“PUTU MUDIANTARA” (mantan sekretaris kabinet BEM IHDN Denpasar 2009)

 

A. Pengertian

Galungan adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

B. Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.

Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).

Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.

Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.

Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.

C. Macam-macam Galungan

Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Galungan Nadi

Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.

Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.

2. Galungan Nara Mangsa

Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:

“Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran.”

Artinya:

Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.

Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:

Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.

Artinya:

Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.

Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.

Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.

D. Galungan di India

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh    Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.


Oleh :

Putu Mudiantara**

Duhkhe swanu dwigya manah

Nikhesu wigata sprhah

Wita soka bhaya krsdhah

Sthira dhiramunir ucyate

(Sarasamuccaya 505)

Artinya :

Yang disebut orang yang memiliki keprajnan (kebijakan), tidak bersedih hati jika mengalami kesusahan, tidak bergirang hati, jika mendapat kesenangan, tidak kerasukan nafsu, murah dan rasa takut serta kemurungan, melainkan selalu tetap tenang juga pikirannya dan tutur katanya, karena berilmu, budi mulia pula disebut orang yang arif bijaksana.

Secara umum hari raya saraswati dimaknai sebagai hari ilmu pengetahuan. Ada juga yang mengatakan hari saraswati sebagai momentum peringatan hari turunya ilmu pengetahuan  bahkan belakangan ini ada yang mengartikannya sebagai peringatan turunnya veda. Pendapat yang belakangan ini muncul perlu dikaji secara kritis. Ilmu pengetahuan banyak jenisnya dan jumlahnya.

Ada ilmu pengetahuan agama (spiritual) dan ada ilmu pengetahuan sekuler (sains). Sebagian ilmu pengetahuan agama diturunkan kepada umat manusia dan sering disebut dengan wahyu dan hanya termuat dalam kitab suci. Brahmawidya atau teologi adalah ilmu pengetahuan agama berdasarkan pemikiran mengenai hakikat tuhan. Ilmu

*    Makalah ini disampaikan pada acara malam sastra/Dharma Tula Hari Raya Saraswati bertempat di Kampus IHDN Denpasar

**  Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Penerangan Agama Semester VII Kampus Denpasar, saat ini sebagai Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Dharma Wacana IHDN Denpasar

Pengetahuan sekuler lebih banyak lagi jenisnya, dan tentu menimbulkan pertanyaan : ilmu pengetahuan yang mana yang diturunkan pada hari raya saraswati?. Saraswati bukanlah sebagai hari memperingati turunnya veda yang terdiri dari 4 kitab yang berisi banyak sloka – sloka atau ayat dalam satu hari. Sloka – sloka tersebut dihimpun dan disusun dalam jangka waktu yang amat panjang dan tidak ada catatan komplit mengenai kapan turunya weda di dunia ini.

Saraswati adalah lambing intelegensia, karena dari buah pikirannyalah maka lahirlah bahasa. Dengan adanya bahasa yang mengekspresikan intelegensia , lalu manusia dibedakan dengan binatang . saraswati juga merupakan intelek itu sendiri yang disebut dengan jnana sakti. Saraswati adalah sumber inspirasi dan kekuatan penciptaan dari tingkat yang lebih rendah maupun tingkat yang lebih tinggi.

Ilmu pengetahuan yang berupa sains dan spiritualisme memiliki peranan yang amat penting bagi kehidupan manusia . dengan ilmu pengetahuan kita dapat mencapai kebenaran yang absolute, yaitu  Tuhan Yang Maha Esa.  Jalan pengetahuan ini disebut dengan jnana marga. Ilmu pengetahuan adalah jalan untuk menemukan kebenaran relative, yaitu pengetahuan berdasarkan hasil penelitian secara empiris atau berdasarkan hasil pemikiran manusia. Ilmu pengetahuan alam mampu mengubah alam (nature) menjadi budaya (culture).

Hari raya saraswati tidak dijadikan sebagai hari perlombaan untuk membuktikan  siapa yang lebih pintar atau sakti namun hari ini hendaknya dijadikan sebagai hari untuk merefleksi secara mendalam dan sebagai hari untuk meniti jalan ke dalam diri sendiri. Upanisad, ceramah kerohanian  semuanya baik namun jangan tinggalkan aspek – aspek seni, keindahan dan kemuliaan.

Pemujaan hari raya saraswati bertujuan untuk mendapatkan kebijaksanaan yang dapat menuntun hidup ini untuk mendapatkan kerahayauan  karena sesungguhnya orang memuja dewi sarswati sebagai dewaning pangweruh yaitu dewanya ilmu pengetahuan. Sebagai dewi saraswati, beliau tidak mempunyai pratima. Aksara itulah pratimanya. Itulah sebabnya orang tidak boleh membunuh aksara pada hari raya saraswati. Aksara merupakan gambar dan simbul – simbul bunyi.

Pemujaan dewi saraswati menunjukkan bahwa orang – orang yang beragama hindu amat mendambakan ilmu pengetahuan. Tuhan dimohon hadir pada buku – buku dengan menghaturkan persembahan pada hari raya saraswati. Orang  bijaksana, orang berilmu amat dimuliakan. Orang yang membunuh orang bijaksana amatlah besar dosanya karena orang – orang bijaksana adalah manusia langka. Perbuatan membunuh brahmana sama dengan dosa membunuh bayi dalam kandungan.

Dalam sastra agama hindu amat banyak pujian terhadap kemuliaan ilmu pengetahuan dan kepada orang – orang yang memilkikinya. Beberapa pujian – pujian itu sebagai berikut :

Sreyan dravyamayad yajnaj

Jnayajnah paramtapa,

Sarvam karma khilam partha

Jnane parisampyate

(bhagavadgita I.33)

Artinya :

Persembahan berupa ilmu pengetahuan , O Arjuna,

Lebih mulia daripada persembahan materi

Dalam seluruh kerja ini berpangkal dari ilmu Pengetahuan, O Partha

 

Norana mitra manglewihane wara guna maruhur,

Norana satru manglewihana geleng hana rihati,

Norana sih manglewihana sih ikang atanaya,

Norana sakti daiva juga sakti tan hana manahen

(Niti Sastra II.5)

 

Artinya :

Tiada sahabat yang melebihi ilmu pengetahuan yang luhur.

Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat dalam hati.

Tiada kasih yang melebihi cinta kasih orang tua kepada putranya.

Tiada kekuatan yang menyamai takdir karena tiada orang yang mampu menahan

 

adbhirgatrani suddhyanti,
manah satyena suddhyanti
widyatapobhyam bhutatma
budhhir jnyanena suddyanti

(Manawa Dharmasastra, V.109)

Artinya :

Badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan jnyana.

Kenyataan menunjukkan bahwa berkat ilmu pengetahuan orang dapat memperingan dan mempermulia hidupnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan maka ia dapat membuat apa yang kita kehendaki sesuai kemampuan kita miliki.

Ilmu pengetahuan didapat dengan belajar keterampilan dan didapat dengan berlatih yang kesemuanya itu harus dilandasi denganketekunan, keteraturan dan ketetapan hati. Orang pun terus menerus mengejar ilmu pengetahuan seolah – olah bagaikan orang yang mengejar wanita cantik. Dalam sastra agama hindu terdapat dorongan, suruhan agar orang menuntut ilmu. Di dalam kitab bhagavadgita menyebutkan :

Tat viddhi pranipatena

Pariprasnena sevaya

Upadeksyanti  te  jnanam

Jnaninas tatvadarsinah

(bhagavadgita IV.34)

Artinya :

Belajarlah dengan penuh disiplin,

Dengan bertanya bekerja dan berbakti

Guru budiman penguasa kebenaran

Akan mengajarkan padamu ilmu budi pekerti

Masa yang sebaiknya untuk menuntut ilmu pengetahuan adalah pada masa muda. Masa muda adalah masa kuat – kuatnya badan, masa otak sedang cerdas dan masa peka pada beberapa hal. Masa muda diliputi oleh banyak cita – cita. Bila umur telah berlanjut orang mulai menghadapi kenyataan hidup, memikul banyak kewajiban dan beban hidup sehingga kesempatan untuk belajar semakin surut. Kekuatan badanpun menurun pula sesuai dengan pertumbuhan umur itu.

Memuja dewi saraswati berarti memuja dan menjunjung tinggi nilai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan  adalah senjata yang paling ampuh untuk mengusir ketidaktahuan (avidya). Awidya adalah sumber kesengsaraan . maka tugas kita sebagai generasi muda hindu adalah melenyapkan awidya hal ini harus dihilangkan karena avidya merupakan sumber kesengsaraan hidup.

Kitab suci sarasamuccya 505 menyebutkan sebagai berikut :

Yang disebut orang yang memiliki keprajnan (kebijakan), tidak bersedih hati jika mengalami kesusahan, tidak bergirang hati, jika mendapat kesenangan, tidak kerasukan nafsu, murah dan rasa takut serta kemurungan, melainkan selalu tetap tenang juga pikirannya dan tutur katanya, karena berilmu, budi mulia pula disebut orang yang arif bijaksana.

 

Adapun yang dimaksud dengan “keprajnan” atau samyajnana yaitu penguasaan pengetahuan baik ilmu pengetahuan spiritual (para vidya) maupun ilmu pengetahuan sains (apara vidya). Samyajnana memiliki makna yaitu orang yang telah mencapai pengetahuan yang sejati yang telah menghayatinya dan telah pula melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari. Pendakian sains dan spiritual telah diajarkan dalam ajaran agama hindu sebagaimana tersirat dalam symbol saraswati. Dalam agama hindu pengetahuan, kebijaksanaan dan kesucian adalah sesuatu yang manunggal.

Sebagai generasi muda hindu yang berintelektual mestinya kita senantiasa mengamalkan ajaran ilmu agama Hindu apalagi dalam pelaksanaan hari raya saraswati ini. Maka hal utama yang harus kita lakukan pada pelaksanaan hari suci saraswati adalah :

  1. 1. Saraswati, Refleksi Mendalam

Hendaknya perayaan saraswati dipakai sebagai media perenungan terhadap hakekat sang diri, dalam memaknai ilmu pengetahuan itu sendiri. Proses penggalian pengetahuan itu hendaknya dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Niscaya, temuan-temuan baru yang berguna bagi kehidupan umat manusia, seperti penemuan obat virus Flu Babi, penangkal virus HIV, atas seizin Tuhan Yang Maha Kuasa dapat terjadi dalam waktu yang tidak begitu lama.

  1. Menanam Spirit Baru

Dalam  hal ini kita sebagai generasi muda hindu hendaknya sejak dini menanamkan kesadaran dalam diri mengenai betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan secara mendalam demi kesempurnaan kehidupan kita menuju jagadhita.

  1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua.
  2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebe-naran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi.
  3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidak-benaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk melek/eling/bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.
  4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.
  5. Kita masih memerlukan/mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan peng-hayatan dan bakti yang tulus.
  6. Laksanakan Puja/sembahyang sesuai de-ngan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus/ihlas, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain
  7. Dalam perayaan saraswati hendaknya jangan bersifat formalitas belaka. Secara pemaknaannya karena pada malam hari generasi muda mempergunakan moment selain melaksanakan persembhyangn bersama juga digunakan sebagai malam berduaan bersama sang kekasih pujaan hati.

10.  Ilmu pengetahuan yang telah didapatkan hendaknya senantiasa jangan disalahgunakan  sehingga kemampuan jnana  yang tinggi  digunakan untuk mendorong umat manusia untuk mempergunakan jnana itu untuk kepentingan yang baik dan tidak bersifat  memuaskan kama belaka seperti pembuatan bom dan sebagainya.


OLEH : PUTU MUDIANTARA (Ketua UKM Dharma Wacana IHDN Denpasar Periode 2010-2011)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Kasus salah pati seringkali terjadi belakngan ini karena disebabkan oleh beberapa faktor penentu yang sangat berpengaruh terjadinya kematian tersebut. Salah Pati adalah salah satu bentuk kematian yang tanpa disengaja oleh suatu individu dan diluar kehendak. Fenomena ini sering terjadi dikalangan umat hindu khususnya di bali. Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 mendefinisikan bahwa salah pati adalah mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki.

Dalam pengertian ajaran Hindu mati itu ada dua tinjauan. Tinjuan dari sudut Tatwa dan sudut Upacara.Wrhaspati Tattwa disebutkan sebagai berikut….. kala ikang ngarania wih, turun mapsah lawan panca maha bhuta juga tekang atma ri sarira ikang aganal juga hilang ikang atama langeng  tan malah apan ibek ikang rat kabeh dening Atma.

Artinya : pada waktu mati namanya, hanya berarti berpisahnya Panca Maha Bhuta dengan Atman yang ada pada tubuhnya. Hanya badan kasanya saja yang lenyap sedangkan Atmanya tetaptakberubah, sebab ala mini penuh dengan Atma.

Jadi mati atau meningal menurut konsep tatwa apabila jiwa atau atman orang itu sudah lepas berari orang itu sudah disebut meningal namun menurut pandangan upacara meningalnya tersebut belum sah. Belum dapat keluarga mengambil cuntaka atau pernyataan bela ungkawa secara adat., ibarat sebuah bangunan rumah. Meskipun sudah selesae secara fisik, kalau rumah itu belum diupacarai secara umum maka yang disebut mepelaspas maka rumah itu belum dapat dikatakan selesae. Demikian juga dengan orang meningal meskipun secara tatwa sudah meningal namun perlu juga untuk meningalnya itu disahkan menurut upacara Agama Hindu yang disebut Atiwa-tiwa.

Fenomena kematian salah pati serigkali terjadi, kasus seperti ini tentunya membutuhkan penyelesaian dan berbagai tindakan untuk mencegah hal seperti ini, berdasarkan hal tersebut perlu kajian kasus ini dalam berbagai elemen masyarakat khususnya para akademisi.

I.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan pembahasan diaatas maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan yaitu :

  1. Bagaimana Konsep mati menurut pandangan Hindu?
  2. Apa itu hakikat salah pati?
  3. Bagaimana keadaan atma salah Pati?
  4. Bagaimana pengembalian Atma Salah Pati?
  5. Bagaimana Pelaksanaan Upacara Salah Pati?

I.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penulisan paper ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui dan memahami hakikat salah pati
  2. Mengetahui cara pengembalian atma salah pati
  3. Mengetahui prosesi upacara kematian salah pati
  4. Mengetahui konsep mati menurut pandangan Agama Hindu
  5. Mengetahui keadaan atma mati salah pati

I.4        Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang dipergunakan untuk menyelesaikan tugas ini adalah sebagai berikut.

  1. Metode Kepustakaan

Metode Kepustakaan yaitu metode yang kami gunakan untuk menyusun laporan ini dengan cara mencari data dari buku – buku yang berhubungan dengan penyusunan laporan ini.

 

BAB II
PEMBAHASAN

II.1.  Konsep Mati Menurut Pandangan Hindu

Berbakti pada leluhur tidak semata saat beliau masih hidup saja.bhakti pada leluhur menurut ajaran Hindu dilakukan sampae leluhur itu berada dialam Niskala.  Karena itu saat leluhur itu meningal rasa bhakti itu pun dilakukan dengan merawat jenazah beliao yang sudah meninggal. Kalau dipandang secara filosofis setelah Atman itu tiada dibadan maka badan itu tidak ada bedannya dengan benda lainya. Namun dari sudut pandang Agama meskipun badan yang hanya merupakan sisa-sisa Panca Maha Bhutha itu harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Karena badan kasar itu sangat berjasa menjadi alat Atman melakukan berbagai kegiatan    selama hidup didunia ini.

Badan yang ditingalkan oleh Atman atau jiwa itu tidak dapat diangap sampah begitu saja terus ditanam atau dibakar tanpa arti. Adanya perawatan jenazah bagi orang yang telah meningal sebagai bukti bahwa manusia itu memiliki budaya. Dalam Lontar Dharma Khuripan adanya upacara Agama bagi manusia dari saat lahir sampai meningal itu merupakan cirri perbedaan kita manusia dengan hewan. Mengenai pengertian mati maupun meningal ini dalam ajaran Hindu ada beberapa hal yang wajib kita perhatikan. Kalau dalam Sarasamusccaya 179 disebutkan orang yang dalam hidupnya tidak pernah melakukan dana punia itu sama halnya dengan mati, bedanya Ia hanya bernaFas. Kalau dalam hidup ini kita tidak pernah berbuat Dharma seperti Berdana Punia melakukan Yajna dan tapa itu sama juga dengan mati. Atau sering disebut mayat bernafas. Dalam pengertian ajran Hindu mati itu ada dua tinjauan. Tinjuan dari sudut Tatwa dan sudut Upacara.Wrhaspati Tattwa disebutkan sebagai berikut….. kala ikang ngarania wih, turun mapsah lawan panca maha bhuta juga tekang atma ri sarira ikang aganal juga hilang ikang atama langeng  tan malah apan ibek ikang rat kabeh dening Atma.

Artinya : pada waktu mati namanya, hanya berarti berpisahnya Panca Maha Bhuta dengan Atman yang ada pada tubuhnya. Hanya badan kasanya saja yang lenyap sedangkan Atmanya tetaptakberubah, sebab ala mini penuh dengan Atma.

Jadi mati atau meningal menurut konsep tatwa apabila jiwa atau atman orang itu sudah lepas berari orang itu sudah disebut meningal namun menurut pandangan upacara meningalnya tersebut belum sah. Belum dapat keluarga mengambil cuntaka atau pernyataan bela ungkawa secara adat., ibarat sebuah bangunan rumah. Meskipun sudah selesae secara fisik, kalau rumah itu belum diupacarai secara umum maka yang disebut mepelaspas maka rumah itu belum dapat dikatakan selesae. Demikian juga dengan orang meningal meskipun secara tatwa sudah meningal namun perlu juga untuk meningalnya itu disahkan menurut upacara Agama Hindu yang disebut Atiwa-tiwa.

Atiwa-atiwa ini adalah proses perawatan jenasah orang meningal hal ini diuraikan dalam lontar Pratekaning Wong Pejah. Setelah jenazah itu dirawat menurut ketentuan Atiwa-tiwa barulah orang tersebut iangap sah meningal menurut upacara Agama Hindu di Bali. Secara umum jenazah itu dimandikan dengan air bersih (toyo anyar) kemudian dimandikan dengan toyo kumkuman terus dirawat dengan Bablonyoh putih kuning, mekeramas, mekerik kuku dan lain-lain dan setelah itu disembahhyangkan dengan cara memercikan tirta penglukatan tirta pembersihan tirta pengentas tanem tirta kawitan, atau tirta betara Hyang Guru dan tirta kahyangan tiga hal ini melambangkan bahwa yang bersangkutan untuk  matur piuning entang dirinya telah meningal dan mepamit sebelumnya terakhir melangsungkan upacara mapepegat dengan sanak keluarga umunya keluarga yang satu merajan setelah mapepegat yang maknanya berpisah barulah jenazah itu digulung.

Setelah digulung barulah orang itu diangap sah meningal menurut ketentuan upacara setelah digulung barulah dibawa kebale gede kalu keluarga itu punya rumag adapt yang disebut balai gede dibalae gede itu ada patung garuda sebagai lambang agar  diampuni dosa-doasanya. Setelah dibalae gede ada dua pilihan upacara apakah akan diaben langsung, apakah akan langsung ia tanam atau diaben tentunya terantung keluarga yang memiliki keluarga yang meningal tersebut. Yang jelas setelah digulung. Dengan kain kapan proses meningal sudah sah menurut Upacara Agama.

II.2. Hakikat Salah Pati

Salah Pati adalah salah satu bentuk kematian yang tanpa disengaja oleh suatu individu dan diluar kehendak. Fenomena ini sering terjadi dikalangan umat hindu khususnya di bali. Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 mendefinidikan bahwa salah pati adalah mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki.

Kasus salah pati seringkali terjadi elakngan ini karena disebabkan oleh beberapa factor penentu yang sangat berpengaruh terjadinya kematian tersebut. Adapun beberapa jenis kematian salah pati yaitu :

  1. Mati jatuh (kerubah baya).
  2. Mati ketekuk (kastha bahaya).
  3. Mati dimangsa macan, dimangsa buaya, ditanduk sapi, disambar petir, tertimpa tebing dan lain- lainnya (keserenggara).

II.3  Keadaan Atma Setelah Mati Salah Pati

Utarayana adalah saat dimana siang harinya alam para dewata atau mahluk Siddha Loka yang lain. Secara keseluruhan perhitungan perputaran waktu, yang berdasarkan perhitungan dari nemisha hingga Kalpa. Menyebutkan bahwa satu kedipan mata manusia normal adalah satu nemisha.

15 nemisha membentuk satu Kastha, dan 30 kastha membentuk satu Kala. 30 Kala membentuk satu Muhurtha, dan 30 muhurtha adalah membentuk satu hari yang disebut dengan Ahoratra. Satu tahun para manusia di bumi, itu sama dengan satu harinya para Dewata. Jadi siang hari di alam kadewatan adalah Utarayana, sedangkan saat malam harinya adalah Daksinayana.

Utarayana, dalam kitab Mahabharata adalah sebuah rentan waktu dimana matahari sebagai pusat tata Surya kita bergerak menuju kea rah utara. Itu waktu yang paling baik, paling tepat dan paling istimewa dalam melakukansebuah perljalanan yang abadi bernama kematian.

Bagi para sadhu, atau wiku yang sakti. Bahkan manusia yang sudah sadar akan sebuah kebenaran sejati, tahu akan rahasia dunia, ahli batin yang hebat, serta mengetahui rahasia ini, maka mereka akan memilih waktu kematian di saat matahari menuju arah utara ini yang disebut dengan Utarayana.

Bhisma Putra Gangga, dalam Mahabharata, dikatakan menghembuskan nafas terakhirnya saat Utarayana. Jiwanya mencapai sebuah alam kelepasan, dan ia menjadi satu insan yang pulang ke pangkuan Tuhan dengan selamat. Dalam kita Bhagawad Gita, jika seseorang meninggal saat Utarayanha, maka jiwanya akan bersatu dengan Tuhan.

Ada satu perbedaan yang mendasar, yang disebut dengan waktu kematian Utarayana dengan Daksinayana. Bhagawad Gita mengklasifikasikan manusia yang paham akan kebenaran, orang saleh dan para bijak dengan mengambil jalan kematian saat Utarayana. Sedangkan ada juga manusia yang emngejar kebatinan, ilmu kelepasan, namun belum pada tataran sadar akan Yang Maha Mutlak, meskipun ia berkehendak mati di Utarayana, namun ia akan secara sadar mati saat berkabut, malam  hari, selama dua minggu setelah bulan purnama, atau selama enam bulan saat matahari berada di arah selatan atau daksinayana, maka setelah ia menanggalkan badan jasmaninya, ia akan menuju alam Bulan. Namun ia akan terkena reinkarnasi kembali, lahir ke dunia dan menjalani kehidupan kembali.

Namun bagi saat kematian yang paling baik adalah disebutkan dalam kitab Bhagawad Gita yakni :

Agnir Jyotir ahah suklah

San masa utarayana

Tatra prayata gacchanti

Brahma brahma vido janah.

“Orang yang mengenal Brahman paling utama mencapai kepada Yang Maha Kuasa dengan cara meninggal dunia selama pengaruh Dewa Api. Dalam cahaya, saat waktu siang hari. Selama dua minggu menjelang purnama, atau selama enam bulan pada waktu matahari berjalan menuju arah utara.”

( Bhagawad Gita.8.24)

Satu hal yang perlu digaris bawahi, selama masa penantian kematian, seseorang yang hendak menjemput ajal, harus senantiasa mengingat akan atribut, Lila, nama suci dan mantra Weda dan juga Tuhan atau Brahman.

Satu interpretasi yang terdapat dalam lontar ini sesuai dengan isi dari Weda, adalah waktu yang tepat adalah Utarayana. Kita tidak dapat mengelak dari kematian, namun dapat memilih waktu  kematian tersebut. Orang yang mati saat matahari menuju arah Utara, saat siang hari, saat dua minggu sebelum bulan purnama, adalah akan mencapai alam Brahmajyotir.

Sebuah alam yang merupakan nirguna-Nya Purusottama, Tuhan yang maha mulia. Dalam tataran ini. Kematian itu  mencapai dengan yang namanya kesatuan dengan nirguna. Namun sandaran dari nirguna tersebut adalah pribadi Tuhan yang memiliki badan Sat, Cit, Ananda.

Dengan kata lain. Baik secara sengaja atau  tidak, seseorang meninggal dunia pada saat yang disebutkan di atas, maka ia akan dituntun perjalanannya oleh dewa-dewa yang menguasai unsure api, cahaya dan juga perputaran siang dan malam.

Ada satu perbedaan yang paling menonjol yang terdapat dalam keterangan lontar ini dengan yang terdapat dalam Bhagawad Gita. Jika dalam lontar Yama Purwana Tatwa ini, seseorang dikatakan akan masuk ke alam yang lain, bukan ke sorga loka. Sedangkan untuk Utarayana akan masuk ke alam sorga.

Jika dikatakan manusiayang meninggal saat Utarayana adalah yang mencapai sorga, jagi tataran sorga itu adalah di bagian Nirguna dari Tuhan. Sedangkan menurut keterangankitab Purana yang lain, Sorga adalah kahyangan atau alam yang jauh lebih di bawah dari Brahmajyotir.

Secara umum, alam dalam seluruh literature Weda, dibagi menjadi tujuh Loka dan jutuh Patala. Ketujuh Loka adalah bagian naik, atauketas. Semakin naik,berarti semakin tinggi kwalifikasi rohaninya, semakin mantap spiritualnya saat ia hidup, dan semakin menunjukkan kesucian. Tujuh Loka itu ialah :

-          Bhuh Loka ( atau alam Bumi. Tempat dimana kita menjalankan sebuah aktifitas dan berbuat baik ataupun buruk).

-          Bhuvar Loka adalah alam diatasnya. Sebuah difinisi dari beberapa orang suci, mengatakan bahwa alamini merupakan alam para leluhur.

-          Swah Loka inilah yang disebut dengan Sorga. Sebuah tempat dimana para Dewata dipimpin oleh Bhatara Indra berdiam dan bersemayam.

-          Mahar Loka. Diatas sorga ada alam bernama Mahar Loka.

-          Jana Loka. Sebuah alam yang lebih tinggi lagi dari mahar Loka.

-          Tapa Loka adalah alam dimana membentuk vertical yang lebih utama dari Jana Loka.

-          Satya Loka adalah alam dimana ada sebuah kesetiaan, kebenaran dan para siddha yang bersemayam disana.

Jadi apakah Sorga merupakan perhentian sejati ? jawabannya adalah TIDAK. Sorga bukan perhentian sejati manusia yang mati, tapi sebuah terminal sementara. Di atas itu ada alam bernama Waikuntha Loka, sebuah alam tanpa kecemasan, dan ala mini hanya untuk para manusia yang selama hidupnya menjadi pemuja, pelayan dan penyembah Wishnu.

Sebuah pancaran sinar yang merupakan aspek nirguna dari Purusottama atau Tuhan Yang Utama. Disanalah batas antara alam material dan juga alam rohani. Jadi secara pengertianumum, sorga juga merupakan alam material, sebab disana terdapat senang, sedih. Bahagia, dan juga susah, baik dan juga buruk. Sebuah alam dimana dualisme masih tersisa. Batas dari itu disekat oleh Brahmajyotir, dan diatas Brahmajyotir, ada Waikuntha Loka tadi.

Namun Waikuntha Loka bukanlah sebuah alam yang satu satunya menjadikan seluruh tataran alam semesta itu berakhir. Ada satu alam yang lain disebut Goloka Wrdawana, atau kahyangan Narayana sebagai Tuhan.

Lalu jika demikian adanya, tampaknya jika diinterpretasikan maka lontar Yama Purwana Tatwa ini adalah sebuah lontar yang bertutur alam kematian yang berdasarkan konsep Siwa, serta dewata secara umum yang ada dan berstana di Sorga Loka. Serta ada satu yang menjadikan sebuah focus pembicaraan yama Purwana Tatwa ini mengenai neraka. Sebab Bhatara Yama adalah seorang dewa yang membawahi sekian banyak neraka.

Neraka inilah sebuah alam yang diperuntukkan bagi para pendosa. Para pendosa akan melihat wujud Bhatara yama yang menakutkan ini memiliki 22 tangan dengan senjata terhunus semuanya. Namun bagi para Sadhu, perwujudan Bhatara Yama akan tampak berbeda.

Ada kasus korban meninggal tiba – tiba karena kecelakaan, seseorang yang terlempar keluar dar badan fisiknya. Dalam keadaan kesadaran sepenunya dan dalam keadaan sedang melakukan sesuatu pada saat kematiannya akan mungkin meneruskan kegiatanya sementara waktu di alam halus, karena ia tidak menyadari kematiannya. Ini desebabka karena badan astralnya telah terlepas dari badan fisiknya dengan seluruh badan etherisnya masih dalam keadann utuh yang berarti bhawa semu zat astral dan etherisnya ang sangat dekat dengan alam fisik masih mengelilingiya. Karena itu ia masih sadar sepenuhnya akan dunia fisik walapun dunia ini mulai memberi pemandangan – pemandangan yang agak berbeda.

Untunglah bahwa keadaan yang tidak menyenagkan itu tidak berkelanjutan dan segera berubah menjadi keadaan yang selaras dengan cirri – ciri orang itu, maupun dengan sifat – sifat yang didalaminya. Mereka yang selama hidupnya masih berrsifat ramah tamah, patuh, suka dan damai tentu saja tidak mempunyai daya tarik bagi lingkungan kasar dan penuh kekerasan. Boleh dikatakan lingkingan kesadarannya buyar menghindari suasana semacam itu. Orang yang berrsifat mementingkan diri sendiri dan berhati mulia segera menjadi tidak ingat apa – apa mengenai segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sewaktu mengalami kecelakaan yang membuat ia meninggal . ia segera memasuki keadaan tidur yang sangat tenang dan serasi yang berlangsung sampai ia bangun secara wajar di alam astral yang lebih tinggi atau alam surga ke mana ia ditarik untuk mencapainya.

II.4  Pengembalian Atma Salah Pati Perspektif  Tragedi Kuta

Sebagai orang yang lahir, besar dan telah puluhan tahun hidup di wilayah Kuta dan lainnya, saya ingin menyampaikan ungkapan perasaan atau kata hati ini atas tragedi bom yang ada di daerah kita dan tragedi-tragedi lainnya di Bali. Kalau kita cermati Pulau Bali, sebagai manusia yang memiliki kepala, badan dan kaki, serta orang yang tinggal di Bali, yang mestinya paham minimal tentang sor singgih dan hulu teben, maka wilayah Kuta tidak lebih hanya lututnya Bali. Ketika orang lebih senang memuji otak di kepalanya sebagai organ yang sangat disanjung untuk kehidupan materi spiritual, saya melihat justru lutut adalah bagian penting ketika kita harus berjalan untuk mengejar materi spiritual itu. Dan tatkala Kuta (lututnya) Bali dihancurin, maka seluruh organ tak bisa bergerak apalagi berlari untuk meneruskan perjalanannya sendiri, termasuk dipapah atau dipandu orang.

Saya tidak tahu apalagi paham masalah niskala, spiritual, agama dan agama Hindu yang baik, apalagi baik dan benar. Untuk itu saya ingin bertanya dan juga ingin menyampaikan perasaan atau apa yang saya rasakan atas beberapa hal yang telah diwacanakan atau yang telah dilaksanakan terkait dengan tragedi tersebut (ngulapin, guru piduka, ngaben, mecaru).

Ngulapin, orang Hindu di Bali, acara ngulapin dengan upakara-nya sangat sering dilakukan, dan merupakan keharusan, walaupun kejadian kecil yang menimpa diri, atau suatu upacara yang akan dilakukan. Upacara lan upkara guru piduka, kalau tidak salah mungkin terlalu kasar tafsir pemaknaan saya di mana upacara ini dilakukan dengan sarana (upakara) yang bervariasi adalah bertujuan memohon maaf ke hadapan Yang Maha (Ida Hyang Widhi) atas kejadian yang telah terjadi.

Ini sering dilakukan ketika suatu kejadian telah terjadi, termasuk tragedi bom di Kuta. Di sini saya mau bertanya kepada instansi terkait, pinandita, para rsi, sri mpu yang sangat saya hormati atau siapa pun yang menguasai dan tahu tentang sastra itu. Upacara guru piduka, sudah selalu dilakukan di setiap ada kejadian, tragedi bencana yang menimpa Bali ini (yang saya tahu: musibah di pura, tanah longsor, tebing ambrol, air Ngaben, hanya satu kata tetapi padat makna terutama diteropong dari sastra agama Hindu terlebih Hindu di Bali. Pernah dilakukan tidak kepada manusia melainkan kepada hewan/binatang (maaf karena itu yang real saya lihat walaupun saya sangat percaya itu ditujukan kepada jero ketut (bikul), tapaan, unen Ida (penyu) dan bahkan kepada orang yang di luar konteks Hindu kekinian (Raja Siliwangi).

Menurut kepercayaan saya sebagai penganut agama Hindu di Bali, ngaben adalah untuk mempercepat, membantu menyatunya Atman dengan Paramaatma dengan segala prosesi sejak seseorang mati sampai ngelinggihang dan upacara masemaya di sanggah kemulan. Ini real dilakukan kepada manusia yang telah mati yang kebetulan beragama Hindu di Bali.

Kemudian terkait dengan kejadian di Kuta (bukan tragedi bom saja) kejadian di tempat lainnya di seluruh Bali yang jelas-jelas menjadikan manusia sebagai korban terlepas dari Hindu atau tidak, tidakkah upacara ini sepantasnya dilakukan? Dan mengenai tempat, yang pernah saya baca di harian Bali Post beberapa hari lalu oleh teman-teman yang telah duluan urun rembug untuk tidak mengadakan upacara ngaben di tempat kejadian adalah benar. Menurut saya memang tak mungkin ngaben di tempat kejadian di mana pun di Bali, karena telah ada tempat-tempat yang dibolehkan dan dibenarkan untuk ngaben.

Untuk itu perlulah kiranya segera diadakan perembugan bersama terutama yang tahu dan menguasai sastra tentang ngaben, yang lagi sedang berkuasa yang bisa mengambil langkah atas kekuasaannya berdasarkan saran sang tahu sastra itu. Ini untuk menjelaskan perlu-tidaknya mengadakan upacara ngaben tersebut, sehingga jelas jadinya. Mecaru, sebagai persembahan kepada sang kala dan pembersihan atas tempat sang kala melakukan perusakan, kapan dan bagaimana harus dilakukan untuk di Kuta dan Bali secara utuh, selain upacara pecaruan pengerupukan penyepian tahun baru Caka yang juga bobotnya tidak seperti ketika Bali masih belum modern.

II.5  Pelaksanaan Upacara Salah Pati

Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 yang telah memutuskan bagi orang mati salah pati dan ngulah pati diupacarai seperti orang mati normal dan ditambah dengan penebusan serta diupacarai di setra atau tunon yaitu dengan persyaratan sebagai berikut :

  1. Setiap orang meninggal harus diupacarai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu
  2. Khusus bagi yang ngulah pati, upacara/ upakara ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan/ pertigaan jalan dan cangkem setra:
  3. Banten pengulapan dipersatukan dengan sawanya baik mependem maupun atiwa- tiwa.

Ada empat lontar utama yang memberi petunjuk tentang adanya upacara Pitra yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa (mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat pembebasan atau pencarian atma dan hari baik-buruk melaksanakan upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau sarana upacara).
Pitra Yadnya berasal dari bahasa Kawai.Pitr artinya leluhur dan Yadnya berarti korban suci yang tulus iklhas.Pitra Yadnya adalah suatu kewajiban dari preti sentana sebagai wujud bakti kepada leluhur sesuai dengan Panca Srada yaitu Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Purnabhawa,Karma Phala,dan Moksa.Anak yang berbakti kepada orang tua dinamakan Putra, dalam bahasa sansekerta Putt berarti neraka dan ra berarti menghindarkan atau menyelamatkan.Maka putra berarti anak yang menghindarkan orang tua atau leluhurnya dari neraka.Seorang suputra (su artinya baik) yang melaksanakan pitra yadnya bertujuan mensucikan arwah atau roh atau atma leluhurnya yang telah meninggal dunia.Atma perlu disucikan terus agarsuatu ketika dapat manunggal (bersatu) demngan ParamaAtma (Brahman atau Hyang Widhi).

Pensucian atma setelah manusia meninggal dunia diartikan sebagai upaya membebaskan atma dari ikatan-ikatannya yaitu Stula Sarira (Panca Maha Butha) dan Sukma Sarira (Panca Tan Matra).Panca Maha Butha adalah badan atau tubuh yang terdiri atas unsur-unsur padat (yaitu tulang dan daging), cair (yaitu darah,air seni,dan cairan dalam tubuh), udara (yaitu paru-paru), panas atau cahaya (yaitu sinar mata dan panas tubuh), ether atau langit-langit(yaitu urat saraf).

Panca Tan Matra adalah pengaruh semua panca indra (mata,telinga,hidung,lidah,dan kulit) terhadap atma ketika masih hidup.Pensucian atma ketika manusia masih hidup dapat dilaksanakan oleh setiap manusia dengan cara tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran,jiwa dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa (pengendalian sad ripu),akal dibersihkan dengan kedyatmikaan atau kebijaksanaan berdasarkan ajaran agama Hindu.
Adapun pahala bagi seorang suputra dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kirti yaitu mendapat pujian dan kerahayuan atau kesejahteraan
Mahayusa yaitu umur panjang
Bala yaitu tangguh menghadapi gejolak kehidupan
Yasa Patitingal Rahayu yaitu jasa mulia yang dikenang, diteladani, serta membuat kesejahteraan bagi keturunannya.
Pitra Yadnya terdiri atas tiga tahapan sebagai berikut : Ngaben,Nyekah, dan Mapaingkup.Apabila ketiga tahapan ini diselesaikan dalam waktu 1 hari atau 12 jam maka dinamakan Nandang Mantri .Sedangkan pada upacara yang biasa ada tenggang waktu beberapa hari antara Ngaben,Nyekah, dan Mapaingkup.Ngaben dengan ngebet tulang dinamakan Asti Wedana,sedangkan yang tidak ngebet tulang atau langsung dari jenazah yang baru meninggal dinamakan dunia disebut Sawa Sedana.
Upacara ngaben memiliki kata Ngaben yang berasal dari kata ngabuin (huruf u dan i dipolahkan menjadi e) yang berarti menjadikan abu (diperabukan).Upacvara ngaben merupakan serangkaian upacara untuk mengembalikan unsur-unsur Panca MahaButha ke tempatnya masing-masing yaitu unsur padat ke tanah (Pertiwi), unsur cair ke Apah, unsur udara ke Bayu, unsur panas atau cahaya ke Teja, dan unsur ether ke Akasa.Upacara ini dimulai dengan Ngulapin di pura Dalem,memungkah di setra,Meseh lawang di catus Pata atau di cangkem Setra, masiram, lalu Ngaskara,Narpana,lalu ngeseng dan nganyut ke Segara Agung atau Alit.Ngulapin di pura Dalem bertujuan untuk memohon ijin Ida Bethara Durga sebagai sakti Siwa bahwa sang Suputra akan melaksanakan Pitra Yadnya.

Mamungkah di Setra bertujuan untuk membuat simbolswa berupa kayu (cendana atau sebagai) atas ijin Ida bethara Mrajapati.Bagi jenazah baru simbol ini tidak digunakan.Meseh Lawang bertujuan untuk memulihkan secara simbolis cacat-cacat tubuh jenazah yang diperoleh semasa hidup.Masiram atau mabersih bertujuan untuk membersihkan sawa (mayat) dengan cara memandikan mayat.

Ngaskara adalah upacara pensucian atma tahap awal.Narpana adalah manghaturkan sang Lina (yang meninggal) sesajen seperlunya.Ngeseng sawa adalah membakar sawa di setra dirangkai dengan nyepit,nguyeg,dan ngereka abu jenazah.Upacara ngaben diakhiri dengan nganyut abu ke segara sebagai pengembalian unsur cair ke apah.Setelah ngaben status sang Lina meningkat menjadi sang Pitara.
Nyekah disebut juga Nyekar karena nama sang Pitra sudah diganti dengan nama bunga, misal sandat,cempaka,jempiring,dan sbeagainya (untuk sawa wanita), sedangkan untuk sawa pria memakai nama kayu yaitu cendana,majagau,ketewel,damulir,dan sebagainya.Sering juga upacara ini dinamakan Ngeroras, yang berasal dari kata Ro (dua) dan Ras (pisah), yang secara harfiah berarti pisah dua kali.Tujuan upacara ini adalah menghilangkan Sukma Sarira atau Panca tan matra sebagai langkah kedua mensucikan atma.

Nyekah diawali dengan Ngulapin di Segara,kemudian Ngajum Sekah,lalu Ngaskara Sekah,Narpana Sekah,Ngeseng Sekah, dan Nganyut Sekah.Ngulapin di Segara bertujuan untuk mohon ijin Ida Bethara Baruna sebagai penguasa laut untuk melanjutkan upacara Pitra Yadnya .Ngajum Sekah adalah membuat simbol Panca Tan Matra yang disebut Puspa Lingga.Ngaskara Sekah adalah mendak dan mensucikan Puspa Lingga.Narpana Sekah adalah menghaturkan sesajen kepada atman yang sudah disucikan.Ngeseng sekah dilaksanakan dengan membakar Puspa Lingga sebagai simbol menghilangkan Panca Tan Matra bertujuan agar atma dapat dengan damai menuju khayangan, tidak lagi terikat dengan keduniawian.

Nganyut Sekah adalah kelanjutan dari membuang panca tan matra serta mensucikan atma dengan air dari tujuh sungai yang ada di India (Sapta Gangga), yaitu gangga, Yamuna, Serayu,kaweri,Sindu,Saraswati, dan Narmada.Ketujuh sungai suci itu bermuara ke laut, sehingga laut dapat dipandang sebagai perwakilan ketujuh sungai tersebut.Setelah Nyekah, ikatan atma sudah terbebas dari Panca maha Butha dan panca tan matra, sehingga yang masih melekat dan ditanggung jawabkan oleh atman ke hadapan Hyang Widhi adalah karma Wasana, yaitu baik buruknya karma (Subha Asubha Karma) sewaktu masih hidup.

Kondisi Karma Wasana inilah yang menentukan baik buruknya kehidupan dimasa yang akan datang setelah berinkarnasi (lahir kembali) ke dunia.
Upacara mapaingkup disebut juga sebagai upacara Ngerajeg Linggih, karena mepaingkup artinya menyatukan serta menstanakan, dalam hal ini menyatukan atma yang baru diupacarai dengan atma-atma yang yang sudah lama diupacarai yang berstana di Sanggah Pamerajan.Upacara ini terdiri dari dua bagian yaitu Masakapana Nilapati dan Nawur danda Kalepasan.

Masakapan Nilapati diawali dengan Ngulapin di Segara sebagai permohonan ijin kepada Ida Bhatara Baruna, kemudian Nyegara Gunung yang tujuannya mohon kesejahteraan kepada Hyang Widhi dan dilanjutkan di sangah merajan untuk proses panunggalan dan penstanaan disaksikan oleh Catur Dewata (Iswara,Brahma,Mahadewa,dan Wisnu).Bagian kedua upacara Mapaingkup adalah Nawur Danda Kalepasan yang dilaksanakan dengan persembahyangan oleh preti sentana, memohon kepada Hyang Widhi agar atma yang telah diupacarai mendapat tempat yang baik serta dimaafkan segala kesalahannya ketika amsih hidup, termasukjanji-jani sesangi atau saud-saud yang belum terbayar, agar dipulihkan serta tidak lagi menjadi beban bagi preti sentana.

Setelah mepangkur, status atma sudah menjadi Bethara Dewa Hyang atau Bethara Raja Dewata.
Setelah upacara mapaingkup atau ngerajeg linggih,dilaksanakan upacara maajar-ajar.Tujuannya adalah nagkilang Bhatara Raja Dewata ke pura pura stana para Dewa (Hyang Widhi) agar mendapat restu serta dikenal sebagai atma yang sudah disucikan.Kemiripan upacara ini seperti pelaksanaan TirtaGamana bagi manusia yang masih hidup.Adapun pura-pura yang wajib dikunjungi ketika meajar-ajar antara lain :

1. Pura Khayangan Tiga setempat
2. Kelompok pura di Lempuyang Stana Hyang Giri Jaya
3. Silayukti, stana Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah
4. dasar Bhuwana Gelgel stana Mpu Ghana
5. Pura kawitan
6. Besakih, meliputi pura Dalem Puri,Manik Mas,Pedharman masing-masing, Penataran Agung Bilamana ada kesempatan, alangkah baiknya jika dilanjutkan ke pura Uluwatu, Pulaki,Batur, Penulisan, RambutSiwi, dan sebagainya.Setelah meajar-ajar,maka selesailah seluruh rangkaian upacara Pitra yadnya.

Berdasarkan hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa pelaksanaan upacara kematian bagi individu yang terkena salah pati adalah sama dengan kematian manusia biasa, dalam kitab suci agama hindu khususnya dalam bentuk smrti berupa lontar khususnya lontar yama purana tatwa yang merupakan salah satu naskah tradisional Bali yang memuat tentang upacara yajna agama Hindu adalah naskah Yama Purwwa Tattwa.

Naskah ini telah didokumentasikan di Kantor Dokumentasi Budaya Bali. Naskah aslinya memakai aksara Bali dan telah dilakukan alih aksara serta alih bahasa ke dalam huruf latin. Telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penterjemah, yang tujuannya adalah guna memudahkan memahami isi yang terkandung di dalam naskah tersebut. Keseluruhan naskah ini (lazimnya dikenal oleh masyarakat Hindu di Bali adalah lontar) terdiri atas 16 lembar.

Berikut ini dicoba dipaparkan secara sederhana, yang           harapannya adalah dapat disimak maknanya, baik secara filosofis, teologis, maupun ritual. Secara filosofis, bahwa ada beberapa sarana utama yang dipakai dalam upacara kematian sesuai naskah Yama Purwwa Tattwa, di. antaranya : pisang jati sebagai warna, asep sebagai mata, nasi angkeb sebagai mulut, bubur pirata sebagai suara, dukut lepas sebagai dubur, cawan sebagai dahi, daun kayu sugih sebagai hidung, kusa sebagai bulu mata, jawa sebagai alis, pili-pili sebagai ulu hati, panjang ilang sebagai lidah, ending sebagai bibir, don rotan sebagai punggung, asep sebagai gusi, pengawak sebagai tulang belakang, tebu sebagai lengan, cendana sebagai tulang
kelingking, rempah-rempah sebagai inti atau sebagai atma. Panyugjug sebagai jalan, panyugjug mameri sebagai penuntun yang paling depan, baju (wastra) sebagai kulit, kain wangsul sebagai telapak kaki, topi sebagai lutut, ganjang/ganjaran berisi uang sebagai tulang lutut, sangku sebagai kantung kemih, kipas sebagai nafas, kotak sebagal daging, tiga sampir sebagai urat, dan gagadhing, emba-embanan sebagai kepala.

Kemudian secara teologis dinyatakan dalam naskah Yama Purwwa Tattwa, bahwa upacara kematian yang lazim disebut sebagai upacara ngaben (baik nyawa wedana, swasta, dan yang sejenis dalam upacara kematian) sesungguhnya ditujukan kehadapan Sang Hyang Siva (sebagai asal dan semua ciptaan di dunia ini). Sesuai sumber naskah Yama Purwwa Tattwa bahwa orang yang meninggal, dikubur di pertiwi, dan dibuatkan upacara pengabenan mendapatkan anugerah dan Sang HyangYama guna menghilangkan segala kekotoran (leteh atau dosa) sehingga roh orang yang meninggal kembali ke alam Siva.

Adapun nyasa atau simbul dan orang yang meninggal secara teologis digambarkan dengan huruf Triaksara, Omkara Mula, Rwa Bhineda yang dilengkapi dengan sesajen yang diperlukan. Selanjutnya jika roh orang yang rneninggal masih dalam keadaan sengsara, kotor (cukil daki) belum layak diupacarai ngentas, oleh karena hal demikian secara teologis mendapatkan kutukan dari Sang Hyang Haricandana (sebutan lain dari Deva Siva) untuk tinggal di dasar kawah naraka dan bukan tinggal di alam Siva.

Kutukan Sang Hyang Haricandana dilanjutkan dengan penyerahan kehadapan Deva Brahma, yang pada akhirnya diserahkan kehadapan kepada Sang Hyang Yamadipati untuk ditempatkan di kawah naraka. Kelak pada saat kelahirannya dinyatakan äkan menjelma menjadi berkaki satu, berkaki tiga, dempet, dimpil, darih (mandul), deyog, pirut (kerdil), picek, dingkil, buta, tuli, gudug (jari dan tangan terlepas karena penyakit lepra), basul (perut dan pusar menonjol), beseh (berkali-kali kencing tanpa dirasakan), agong (abong), bulai, gondong, punuk (ponok), segala cacat tubuh dideritanya, demikian keburukannya, dunia kacau, bercampur baur, dunia salah perhitungan, hujan tidak sesuai dengan musimnya, ular banyak dan tikus galak merajalela.

Sedangkan secara ritual bahwa naskah Yama Purwwa Tattwa juga memaparkan bagaimana upacara kematian, khususnya upacara Nyawa Wedana yang upakaranya terdiri atas guling bebangkit selengkapnya, sebagai penebusan, sesajen beralaskan nyiru sebanyak tiga nyiru, tetingkeban satu nyiru, untuk sedahan kawah satu nyiru, nasi garuda satu nyiru, dan ditambah pangalang-alang satu nyiru, dan lagi nasi gagak, sri kakili, anggel-anggel 22 tanding, tamelung upih 108, cunguh kawu 40, berisi nasi setengah matang, yang tiga berisi lauk kulit siput air, dan lagi yang tiga berisi lauk darah, darah bercampur abu, dan lagi taksisir, tamelung upih besar sebuah, berisi nasi lauk kulit siput air, alang-alang segenggam, darah satu limas berisi ati, bertongkat kayu ha, berisi panca kosika, yang merupakan gabungan dari daksina sebuah, pras lima, nasi putih, nasi merah, nasi kuning, nasi hitam, saji sebuah berisi lauk itik, pelengkap pahumahan lekesan 40 sebesar seperti cane dan lagi ditarnbah sajen pambuket, tumpeng berpucak manik, seperti sate panyegjeg sebagai panebasan, berisi nasi setengah matang diolesi cendana, dipancangi orti, pulakerti, dan lagi karas berisi balung, jatu kling, warna, alat-alat kaki patuk, karas berisi alat-alat tukang bangunan.

Sebagai dasar kawah, kaping berwarna sesuai dengan neptu dan sajen pelengkap berupa galahan (beràs 10 catu, telur 10 buur, uang 10 ribu, kelapa 10 butir) ditambah lagi sajen panjang ilang, cacar samah, bubur pirata serta babi seharga 555 yang dipotong dibentuk seperti hidap (wingarigun urip), daging potongan mentah, urutan angina, pala kiwa, darah 1 piring besar, benang berwarna, bokbokan garuda, benang hitam, benang merah, benang putih, dan lagi gula sakerek, kelapa setengah berisi gula kelapa sebutir, lagi kelapa setengah berisi gabah, botol 2, pelengkap wak-wakan, telor 9, nasi pulupuhan 1, nasi pujungan 1, nasi sokan 1, tuak 1 klukuh,  arak 1 beruk, air 1 brerong, sujang rentet
5 buah, dan uang tatingkeb 225, uang bebangkit 225, uang pulagembal 225, uang sedahan kawah 225, uang garuda 225, uang kaki patuk 225, uang pagu 225 uang pangalang-alang 225, uang sega dewa 2, berisi kwangen dan kwangen tersebut  berisi permata mulia, masing-masing berisi uang 225, benang 1 gulung penyarikan 5, masing-masing berisi 25. Sesantun membuat sajen sanak, nasi dadong patuk 1 kukusan, lauknya ayam gemerot angkeb 1,  caratan trisula, pane padma, payuk cakra. Sesantun nanding panyapa, bila yang utama 1700, yang sedang-sedang 700, yang kecil 500.

Demikian sekilas paparan mengenai kandungan isi dari naskah Yama Purwwa Tattwa, yang sesungguhnya sebagai pedoman bagi umat Hindu dalam melaksanakan upacara kematian atau upacara pengabenan. Inti dari naskah Yama Purwwa Tattwa sebagaimana telah dijelaskan di atas, yaitu sebagai pedoman untuk melakukan upacara kematian, agar roh yang meninggal dapat menuju ke alam Siva, tidak sebaliknya ke alam naraka.

Secara teologis, bahwa naskah ini mengajarkan kepada umat Hindu untuk menghormati dan berbhakti kepada Deva Siva beserta dengan manifestasi Beliau. Secara ritual, bahwa naskah ini telah memaparkan beberapa peralatan, sadhana, upakara, yang digunakan untuk kelangsungan upacara kematian atau upacara ngaben bagi umat Hindu. Tentu sumber lainnya masih juga ada keterkaitan dengan naskah Yama Purwwa Tattwa yang sama-sama.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1. Kesimpulan

Badan yang ditingalkan oleh Atman atau jiwa itu tidak dapat diangap sampah begitu saja terus ditanam atau dibakar tanpa arti. Adanya perawatan jenazah bagi orang yang telah meningal sebagai bukti bahwa manusia itu memiliki budaya. Dalam Lontar Dharma Khuripan adanya upacara Agama bagi manusia dari saat lahir sampai meningal itu merupakan cirri perbedaan kita manusia dengan hewan. Mengenai pengertian mati maupun meningal ini dalam ajaran Hindu ada beberapa hal yang wajib kita perhatikan. Kalau dalam Sarasamusccaya 179 disebutkan orang yang dalam hidupnya tidak pernah melakukan dana punia itu sama halnya dengan mati, bedanya Ia hanya bernaFas. Kalau dalam hidup ini kita tidak pernah berbuat Dharma seperti Berdana Punia melakukan Yajna dan tapa itu sama juga dengan mati. Atau sering disebut mayat bernafas.

Salah Pati adalah salah satu bentuk kematian yang tanpa disengaja oleh suatu individu dan diluar kehendak. Fenomena ini sering terjadi dikalangan umat hindu khususnya di bali. Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 mendefinidikan bahwa salah pati adalah mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki.

Ada kasus korban meninggal tiba – tiba karena kecelakaan, seseorang yang terlempar keluar dar badan fisiknya. Dalam keadaan kesadaran sepenunya dan dalam keadaan sedang melakukan sesuatu pada saat kematiannya akan mungkin meneruskan kegiatanya sementara waktu di alam halus, karena ia tidak menyadari kematiannya. Ini desebabka karena badan astralnya telah terlepas dari badan fisiknya dengan seluruh badan etherisnya masih dalam keadann utuh yang berarti bhawa semu zat astral dan etherisnya ang sangat dekat dengan alam fisik masih mengelilingiya. Karena itu ia masih sadar sepenuhnya akan dunia fisik walapun dunia ini mulai memberi pemandangan – pemandangan yang agak berbeda.

Untunglah bahwa keadaan yang tidak menyenagkan itu tidak berkelanjutan dan segera berubah menjadi keadaan yang selaras dengan cirri – ciri orang itu, maupun dengan sifat – sifat yang didalaminya. Mereka yang selama hidupnya masih berrsifat ramah tamah, patuh, suka dan damai tentu saja tidak mempunyai daya tarik bagi lingkungan kasar dan penuh kekerasan.

Boleh dikatakan lingkingan kesadarannya buyar menghindari suasana semacam itu. Orang yang berrsifat mementingkan diri sendiri dan berhati mulia segera menjadi tidak ingat apa – apa mengenai segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sewaktu mengalami kecelakaan yang membuat ia meninggal . ia segera memasuki keadaan tidur yang sangat tenang dan serasi yang berlangsung sampai ia bangun secara wajar di alam astral yang lebih tinggi atau alam surga ke mana ia ditarik untuk mencapainya.

Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 yang telah memutuskan bagi orang mati salah pati dan ngulah pati diupacarai seperti orang mati normal dan ditambah dengan penebusan serta diupacarai di setra atau tunon yaitu dengan persyaratan sebagai berikut :

  1. Setiap orang meninggal harus diupacarai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu
  2. Khusus bagi yang ngulah pati, upacara/ upakara ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan/ pertigaan jalan dan cangkem setra:
  3. Banten pengulapan dipersatukan dengan sawanya baik mependem maupun atiwa- tiwa.

Ada empat lontar utama yang memberi petunjuk tentang adanya upacara Pitra yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa (mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat pembebasan atau pencarian atma dan hari baik-buruk melaksanakan upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau sarana upacara).

III.2. Saran – Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan tadi maka saya dapat simpulkan beberapa saran – saran yang konstruktif sebagai berikut :

  1. Manusia mestinya menyadari mengenai pentingnya arti kehidupan khususnya pentingnya pemahaman mengenai penjelmaan sebagai manusia.
  2. Manusia senantiasa selalu mengutamakan dan mengaplikasikan ajaran dharma dalam kehidupanya.
  3. Dalam melakukan tindakan hendaknya menimbang – nimbang terlebih dahulu agar tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.

 


OLEH : PUTU  MUDIANTARA (ketua UKM Dharma Wacana IHDN Denpasr 10 -11)

A. PENDAHULUAN

Penggunaan facebook dikalangan remaja khususnya generasi muda hindu di bali semakin berkembang pesat, generasi muda kini beranggapan bahwa jka tidak mengenal atau mempubyai facebook dikatakan tidak gaul. Facebook kini trend dikalangan remaja karena kemudahan komunikasi, fiturnya hingga manfaatnya. Facebook menawarkan kemudahan berupa fasilitas chatting, update status, upload foto, penjaring teman, games, melacak seseorang dan masih banyak lagi.Namun siapa sangka dibalik keunggulannya facebook ternyata sangat berdampak terhadap implementasi ajaran tri kaya parisudha khususnya dikalangan generasi muda hindu.

B. PEMBAHASAN

  1. pengertian Tri Kaya Parisudha

Tri Kaya Parisuda artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci (Manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Dari tiap arti kata di dalamnya, Tri berarti tiga; Kaya bararti Karya atau perbuatan atau kerja atau prilaku; sedangkan Parisudha berarti “upaya penyucian”.Jadi “Trikaya-Parisudha berarti “upaya pembersihan/penyucian atas tiga perbuatan atau prilaku kita”.

PENYUCIAN PIKIRAN (MANACIKA)

Inilah tindakan yang harus diprioritaskan, karena pada dasarnya semua hal bermula disini. Ia menjadi dasar dari prilaku kita yang lainnya (perkataan dan perbuatan); dari pikiran yang murni akan terpantul serta terpancarkan sinar yang menyejukan orang-orang disekitar kita, sebaliknya pikiran keruh akan meruwetkan segala urusan kita, walaupun sebenarnya tak perlu seruwet itu. Tentu ruwet tidaknya suatu permasalahan, amat tergantung padacara kita memandang serta cara kita menyikapinya.

Bila pandangan kita sempit dan gelap, semuanya akan menjadi sumpek dan pengap. Sebaliknya bila pandangan kita terang, segala hal akan tampak jelas sejelas-jelasnya. Ibarat mengenakan kacamata, penampakan yang diterima oleh mata amat tergantung pada kebersihan, warna bahan lensanya, serta kecangihan dari bahan lensanya. Jadi, apapun adanya suatu keberadaan, memberikan pancaran objektif bagi kita, namun kita umumnya tidak dapat menangkapnya dengan objektif.

Pandangan kotor akan menampakkan objek kotor dan tidak murni dimata kita. Apabila cara pandang serupa itu kita gunakan memandang berbagai fenomena hidup dan kehidupan, tentu hidup kita menjadi ruwet, menimbulkan duka-nestapa, serta berbagai kondisi-kondisi pikiran negatif. Hal inilah yang terjadi dalam pikiran kita. Pikiran kita menjadi kotor dan suram pandangan kita sendiri. Untuk itu hanya kita sendiri yang dapat membersihkannya. Hal ini dalam Hindu disebutkan :”tak ada makhluk dari alam manapun yang dapat menyucikan batin kita, apabila kita sendiri tidak bergerak dan berupaya kearah itu, terlebih benda-benda materi, tentu tak mungkin menyucikan siapa-siapa”.

Untuk menyucikan pikiran, perlu memperbaiki pandangan terlebih dahulu. Untuk memperbaiki pandangan, diperlukan pemahaman yang baik dan mencukupi tentang falsafah ajaran agana yang dapat dipelajari dari kitab suci dan bimbingan guru. Melalui hal tersebut, banyak kegelapan dan kegalauan batin kita menjadi sirna, terbitnya cahaya terang dalam batin melalui bimbingan beliau, membantu mempercepat proses menuju tujuan akhir.

Tiga macam implementasi pengendalian pikiran dalam usaha untuk menyucikannya, disebutkan di dalam Saracamuscaya, adalah:

1. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak layak atau halal.
2. Tidak berpikiran negatif terhadap makhluk lain.
3. Tidak mengingkari HUKUM KARMA PHALA.

Demikianlah disebutkan didalam salah satu Kitab Suci umat Hindu, bila kita cermati inti dari tiga hal di atas adalah bahwa dengan faham karma phala sebagai hukum pengatur yang bersifat universal, dapat membimbing mereka, yang meyakininya untuk berpola pikir yang benar dan suci.

PENYUCIAN PERKATAAN (WACIKA).

Terdapat empat macam perbuatan melalui perkataan yang patut di kendalikan, yaitu:

1. Tidak suka mencaci maki.
2. Tidak berkata-kata kasar pada siapapun.
3. Tidak menjelek-jelekan, apalagi memfitnah makhluk lain.
4. Tidak ingkar janji atau berkata bohong.

Demikianlah disebutkan dalam Sarasamuscaya; kiranya jelas bagi kita bahwa betapa sebetulnya semua tuntunan praktis bagi pensucian batin telah tersedia. Kita harus dapat menerapkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

PENYUCIAN PERBUATAN FISIK dan PRILAKU (KAYIKA).

Terdapat tiga hal utama yang harus dikendalikan, yaitu:

1. Tidak menyakiti, menyiksa, apalagi membunuh-bunuh makhluk lain.
2. Tidak berbuat curang, sehingga berakibat merugikan siapa saja.
3. Tidak berjinah atau yang serupa itu.

Demikianlah sepuluh hal penting dalam pelaksanaan Tri Kaya Parisudha sesuai dengan apa yang dijabarkan dalam kitab Saracamuscaya. Pengamalan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan untuk membentuk karma serta hubungan yang baik antar sesama umat.

  1. Pengetian facebook

Facebook adalah situs jejaring social pencari teman di dunia maya  yang memiliki berbagai keunggulan dan fasilitas yang sangat digemari oleh remaja. Dalam situs ini kita bias menjaring teman, melakukan komunikasi antar personal maupun menyimpan kenangan seperti foto, video dll.

  1. dampak facebook terhadap implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha.

Facebook sangat berdampak bagi implementasi ajaran tri kaya parisudha yang berarti mempengaruhi perkataan pikiran maupun perbuatan  dalam hal ini pengaruh tersebut adalah ;

    1. manacika parisudha (pikiran)

dampak tersebut dapat berupa mempengaruhi psikologis manusia yang mempergunakan hal tersebut karena cenderung jika kita berpikiran kotor akan tercermin melalui facebook, selain itu kadang kita menjadi emosi karena banyaknya komentar dari pengguna facebook lainnya.Selain hal itu kadang juga kita berpikiran kotor sehingga kita membuka alamat facebook yang berkesan pornografi sehingga menimbulkan kesan adanya pikiran kotor bagi penggunanya

    1. Wacika parisudha (perkataan)

apa yang kita pikirkan maka itu yang akan kita katakana dalam hal ini kita sering melontarkan perkataan yang kasar melalui tulisan atau komentar yang ada di fecebook. Hal ini sangat berbahaya karena ada kasus pelecehan sesorang terkena tindak pidanan pencemaran nana baik maka kita harus berhati – hati.

    1. kayika parisudha (perbuatan)

hal ini yang paling mendasar karena penggunaan facebook masih dapt mempengaruhi pola prilaku manusia seperti :

  1. kurang peduli terhadap teman sekitar karena keasyikan di dunia maya
  2. budaya berkomunikasi melalui facebook membuat orang lupa akan budayanya sendiri karena keasyikan komunikasi melalui facebook bukan secara door to dor
  3. pergesearan kebudayaa. Dalam hal ini seringkali pendapat mengatakan bahwa tren ucapan selamat hari raya lebih baik jika dikirimkan melalui facebook atau sms disamping biaya murah, prosesnya cepat.
  4. upload foto di facebook terutama foto ornografi akan menyebabkan orang penasaran berteme.

oleh : IDA KETUT OKA PRAYOGA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Waisnawa adalah golongan yang lebih mengutamakan pemujaan kehadapan Dewa Wisnu. Sekta Waisnawa memuja Dewa Wisnu sebagai Dewa yang Tertinggi dan utama.Wisnu dipercaya sebagai penyelenggara dan pelindung dunia, digambarkan setiap saat memberantas semua bahaya yang mengancam keselamatan dunia.

Untuk keperluan ini Wisnu turun ke dunia dalam bentuk penjelmaan yang sesuai dengan macam bahaya yang mengancam keselamatan dunia. Penjelmaan ini disebut dengan sebutan Awatara. Seperti halnya dengan sekte – sekta yang lain, sekte Waisnawa juga memounyai banyak cabang, diantaranya adalah (1) cabang Sri Waisnawa yang memuja Narayana sebagai Dewa yang tertinggi, yang umumnya memuja dengan Astaksara Mantra ” Om namo narayana ya “ , (2) cabang Ramanadi, yang memuja Wisnu melalui Awataranya Sri Rama, disamping itu mereka juga memuliakan Sita, Laksmana dan Hanoman, (3) Cabang Caitanya yang memuja Wisnu melalui Awataranya Sri Kresna.( Swami Sivananda, 1993; 139 – 142 ).

Bila kita melihat kehidupan sekta di India, seperti keberadaan Sampradaya akan mudah kita lihat dari berbagai pura yang disebut Mandira ( dalam tradisi hindu dibaca mandir ) dengan dewata utama uang distanakan nampak yang paling dominant adalah pemujaan kepada Siwa, Wisnu dan Dewi Durga dengan berbagai Abisekanama beserta parivara dewata ( Dewata pengiring atau putra – putrinya ) dalam Wujud arca yang indah.

Dalam Waisnawa Sampradaya disamping memuja Wisnu sebagai dewata utama ( pada umumnya Arcanya dalam sikap berdiri di atas daun padma ), juga sebagai Narayana ( dalam sikap tidur terlentang diatas naga sesa ), terdapat pula berbagai tempat pemujaan kepada Awataranya, yaitu sebagai Rama dan selalu didampingi oleh sita, sebagai Krisna yang juga selalu didampingi oleh Rada. Pada mandir memuja Wisnu dalam Awataranya sebagai Sri Rama pada bagaian depan selalu kita jumpai arca Hanuman. Pada mandir Wisnu juga dipuja Dewa Siwa dan Brahma sebagai Privaradevata dalam bentuk Arca yang ditempatkan di kiri dan kanan arca utama.

Untuk meningkatkan srada dan bakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa ajaran Waisnawa dapat diamalkan dalam mendekatkan diri pada-Nya. Dan Sebagai bentuk keyakinan yang diyakini kebenarannya, ajaran Waisnawa  masuk dalam ajaran Hindu dalam konsep Tri Murti yang memuja salah satunya yaitu Wisnu, dengan aturan – atauran yang perlu diteladani dalam kehidupan beragama.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar Belakang diatas maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam penulisan paper ini, yaitu:

1.   Siwa Siddhanta Merupakan Penggabungan dari Sembilan Sekte – kekte Yang Ada di Bali.

2. Waisnawa Merupakan Penggabungan Dari Sembilan Sekte Yang Ada di Bali

3. Unsur – Unsur Waisnawa Yang Ada dalam Siwa Siddanta.

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari paper ini adalah untuk menjawab rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas yaitu:

  1. Untuk memahami Siwa Siddhanta merupakan penggabungan sembilan sekte yang ada di Bali
  2. Untuk Memahami Bahwa dalam Siwa Siddhanta ada sembilan sekte yang berkem Untuk mengetahui kaitan Ajaran Waisnawa dalam Saiwa Siddhanta mengenai kepercayaan dan pemujaan.

BAB II

PEMBAHASAN

KONSEPSI WAISNAWA DALAM SAIWA SIDDHANTA

2.1. Sekta Waisnawa

Orang – orang Hindu dipisahkan menjadi 3 golongan besar, yaitu; Waisnswa, yang memuja Wisnu sebagai Tuhan; Saiwa, yang memuja Siwa sebagai Tuhan; dan sekta yang memujaDewi atau aspek ibu dari Tuhan. Sebagai tambahan, ada gaura, yang memuja Dewa Matahari ; Ganapatya; yang yang memuja Ganesha sebagai yang tertinggi; dan Kaumara, yang memuja sekanda sebagai Tuhan.

Disini kita akan menjelaskan Golongan yang kepertama, yaitu Waisnawa,yang memuja Wisnu sebagai Tuhan. Waisnawa dibedakan menjadi 4 Sampradaya pokok atau sekta, diantaranya yang sangat kuno adalah Sri Sampradaya yang diperkenalkan oleh Ramanuja Acarya, kira – kira pertengahan abad ke- 12. Para pengikut Ramanuja memulyakan wisnu dan Laksmi beserta inkarnasinya, mereka disebut pengikut Ramanuja atau Sri rampradayinatau sri Waisnawa. Para Guru mereka adalah kaum brahmana. Dan siswanya boleh dari kaum manapun. Mereka semua mengulang –ulang Astaksara mantra

“Om Namo Narayanaya”

Para pemuja ini memiliki ciri – cirri menempatkan garis putih dan satu garis merah di tengah pada dahinya.

Seperti yang disinggung dalam zaman weda , Wisnu masih menjadi Dewa yang tidak berarti dan belum mendapat banyak perhatian. Didalam bukububku Weda yang muda, Wisnu disebut pula Acyuta, Narayana atau Hari ( Wojowasito, 1953 ; 53)

Sebagai penyelenggara dan pelindung dunia, Wisnu idgambarkan srtiap saat siap memberantas semua bahaya yang mengancam keselamatan dunia. Untuk keperluan ini Wisnu turun ke dunia dalam bentuk penjelmaan yang sesuai dengan macamnya bahaya. Penjelmaan yang disebut Awatara Wisnu ini ada sepuluh ( Dacawatara ), sebilan sudah sembilan sudah terwujud yaitu: Matsya, Kurma, Waraha, Narasima, Wamana, Parasurama, Rama, Krisna, dan Budha. Yang satu lagi adalah penjelmaan yang akan datangsebagai kalki Awatara. Kalki Awatara digambarkan menunggangi kuda putih dan membawa pedang terhunus, menegakkan kembali keadilan dan kesejahteraan diatas bumi ini. ( Soekmono, 1973 : 29 – 30 ).

2.2. Kelompok Wadagalai dan Kelompok Tenggalai

Wedanta Desika merupakan seorang pengikut Ramanuja, membuat beberapa perubahan pada kepercayaan Waisnswa. Hal ini menimbulkan formasi dari 2 kelompok Ramanuja yang saling bertentangan, yang satu disebut kelompok utara (wedagalai) dan yang satu kelompok selatan (Tenggalai). Para pengikut dari Tenggalai menganggap Prapatti atau penyerahan diri sebagi satu – satunya cara  pembebasan diri. Para pengikut dari Wadagalai berpendapat bahwa ada satu jalan pembebasan. Menurut mereka, para atau pemuja seperti anak kera yang harus mengusahakannya sendiri dan bergantung pada induknya ( Markata – Nyanya atau teori kera ) ; sedangkan menurut kelompok Selatan, Bhakta atau pemuja adalah seperti anak kucing yang dibawa induknya tanpa ada suatu cara bagi dirinya sendiri ( Marjaya – Nyaya atau teori cengkeraman kucing ). Kelompok Utara menerima naskah – naskah Sansekerta yaitu Weda, sedangkan kelompok selatan sedang menyusun Weda bagi kelompok mereka yang disebut ‘nalayira Prabhanda ‘ atau ‘ Empat Ribu Sloka’, dalam bahasa tamil dan dan menganggap lebih tua dari Weda Sansekerta. Sesungguhnya, ke – 4.000 sloka mereka didasarkan pada Upanisad, bagaian dari Weda. Dalam pemujaannya mereka mengulang – ulang bagian dari Sloka – sloka Tamil mereka.

Para pengikut Wedagalai menganggap Laksmi sebagai sakti dari Wisnu, dan Laksmi sendiri tak terbatas, tak diciptakan dan layak dipuja sebagai salah satu cara atau upaya untuk pembebasan.

Para pengikut Tengalai  menganggap Laksmi sebagai seorang makhluk wanita yang diciptakan, walaupun bersifat Tuhan. Menurut mereka, beliau bertindak sebagai perantara atau menteri (purusakara) dan bukan sebagai suatu saluran yang layak untuk pembebasan. Kedua sekta tersebut memiliki tanda – tanda wajah yang berbeda. Para Wadagalai membuat sebuah garis lengkung putih seperti huruf U untuk menyatakan satu – satunya kaki kaki Padma Wisnu yang kanan, sebagai sumber dari sungai gangga. Mereka menambahkan tanda garis merah sebagai symbol laksmi. Laksmi juga disebut Dewi Sri yang merupakan Dewi Kesejahteraan, sering dipandang berawatara mengikuti Wisnu, misalnya berawatara menjadi Sita sebagai istri Rama dan menjadi Rukmini istri dari pada Krisna.

2.3. Kehidupan Sekta di India

Bila kita memperhatikan kehidupan atau keberadaan Sampradaya di India, akan mudah kita lihat dari berbagai pura yang disebut Mandira ( dalam tradisi Hindu disebut Mandir ) dengan Dewata utama yang distanakan nampak paling dominant adalah pemujaan kepada Siwa, Wisnu, dan Dewi Durga dengan berbagai abhisekanama beserta Parivara Dewata ( Dewata pengiring atau Putra  – putrinya ) dalam Wujud arca yang indah.

Dalam Waisnawa Sampradaya disamping memuja Wisnu sebagai Dewata utama ( pada umumnya arcanya dalam sikap berdiri diatas daun padma ) , juga sebagai Narayana ( dalam sikap tidur terlentang diatas Naga Sesa ) dan terdapat pula berbagai bentuk pemujaan kepada awataranya, yakni sebagai Rama dan selalu didampingi Sita, dan Krisna yang didampingi oleh Rada. Mandir untuk memuja Wisnu dalam Awataranya sebagi Sri Rama pada bagian depan selalu kita jumpai Arca Hanoman. Pada mandir Wisnu juga dipuja Dewa Siwa dan Brahma, sebagai parivaradewata dalam bentuk Arca yang ditempatkan pada kiri dan kanan arca utama.

2.4 Praktek – praktek ritual Saiwa Siddhanta dalam ajaran Waisnawa

Praktek – praktek ritual dari Saiwa Siddhanta dengan warna Tantrik dapat kita lihat dari ritual para Pendeta di Bali seperti dalam pelaksanaan Suryasevana dengan patangan atau mudra serta mantra – mantra ( Stuti dan Stava ) dengan kuta mantra-Nya dan lain – lain.

Waisnawa Sampradaya memiliki peninggalan dalam tradisi adalah pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi kemakmuran. Sri adalah sakti dari Dewa Wisnu sedang Wisnu diyakini sebagai pemelihara alam semesta yang dikaitkan pula dengan pura puseh ( dipuja melalui pura puseh ) , Pura Ulun sui/ bedugul dimaksudkan pula untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi utamanya sebagai Shang Hyang Wisnu

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

Waisnawa adalah merupakan ajaran yang lebih mengutamakan pemujaan kehadapan Wisnu dan menganggap Dewa Wisnu sebagai Dewa yang tertinggi dan utama. Sebagai penyelenggara dan pelindung dunia Wisnu digambarkan setiap saat siap membrantas semua bahaya yang mengancam keselamatan dunia. Terkait dengan ajaranya  Waisnawa Sampradaya peninggalanya dalam tradisi adalah pemujaan – pemujaan untuk kemakmuran dunia seperti Dewi Sri, dan pura – pura (pura puseh , ulun sui, dll). Maka dari itu ajaran Waisnawa merupakan ajaran ketuhanan yang mengajarkan kebaikan – kebaikan, kemakmuran serta kedamaian.

3.2. Saran-saran

Sebagai mahluk ciptaan yang paling utama hendaknya kita menjaga / memelihara dunia ini dan menjaga hubungan yang harmonis antara sesama. Semua ajaran tentang ke-Tuhanan sangat perlu kita pelajari agar kita dapat berbuat demi kemakmuran dunia. Seperti halnya ajaran Waisnawa yang mengajarkan kita untuk memelihara dunia tempat kita terlahir, tumbuh, dan mati nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Wayan Nurkancana, 1998. Menguak Tabir Perkembangan Hindu, BP : Denpasar

Imade Titib, 1994. Ketuhanan Dalam Weda. Manikgeni; Denpasar


OLEH : TUDE MULYADI

ABSTRAKSI

Barong dilihat dari segi bentuk merupakan hasil karya seni rupa dalam fungsi sakral dapat memantapkan keyakinan umat serta fungsi provan bila mana barong itu dipertunjukkan sebagai tontonan dan pameran yang dipajangkan.

Pengaruh kemajuan iptek dan globalisasi serta perkembangan sektor pariwisata yang demikian pesat dengan sendirinya akan memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan termasuk kesenian barong itu sendiri. Sebab sistem berkesenian bi Bali secara fungsional dan struktural memduduki posisi menonjol, sentral dan integral yang sangat erat kaitannya dengan sistem lainnya seperti sistem relegi, kemasyarakatan, pengetahuan, mata pencaharian, teknologi dan lain-lain.

Pertunjukan barong merupakan implikasi dari seni provan dapat berfungsi sebagai wahana untuk menuangkan ide dan gagasan oleh para seniman dalam mengembangkan kreativitas menginterpretasi simbolik suatu mithologi yang diperoleh secara lisan maupun tulisan.

Demikian pula secara struktural kehadiran barong sebagai seni rupa dan seni pertunjukan dapat memberikan nilai guna praktis dan guna integratif bahkan dapat berperan sebagai media transmisi dalam mentransformasikan sistem nilai budaya Bali yang dikemas lewat ceritra yang dilandasi oleh ajaran agama Hindu.

Kata kunci :  pertunjukan barong, wahana, transmisi, transformasi, sistem nilai  budaya, ajaran agama Hindu.

Pertunjukan Barong Sebagai Wahana, Transmisi Dan Transformasi Sistem Nilai Budaya Dan Ajaran Agama Hindu

BAB I

Pendahuluan

Ajaran Agama Hindu yang mengandung unsur-unsur ritual, emosional dan sistem kepercayaan serta adanya unsur-unsur rasional; barong sebagai hasil karya seni rupa dapat juga diperankan sebagai “Seni Bebali” yang amat angker, merupakan sarana dan media untuk memformulasikan ajaran-ajaran agama yang dapat memperkuat keyakinan.

Nama barong amat populer dimasyarakatkan luas. Para penulis terdahulu menduga bahwa kata barong berasal dari kata bruwang, yaitu nama sejenis binatang. Satwa ini memang bukan kelahiran alam Bali, tetapi dianggap sebagai binatang mithologi yang memiliki kekuatan gaib dan dapat melindungi orang, masyarakat dan lingkungannya.

Sejak dulu sampai sekarang, hampir setiap ada pertunjukan barong senantiasa dapat memukau perhatian orang yang menontonnya. Dilihat dari bentuk kegiatannya dapat dibedakan atas dua. Pertama : berupa pameran, yaitu memperkenalkan barong sebagai hasil karya seni rupa. Kedua : berupa tontonan yaitu memperkenalkan barong dalam bentuk seni tari yang diiringi dengan instrumen gamelan.

Seperti halnya bentuk-bentuk kesenian Bali yang lainnya, pertunjukan barong merupakaan bagian penting pula dari kehidupan masyarakat Bali. Dalam kehidupan beragama, sistem kepercayaan, organisasi sosial, pelestarian lingkungan, dalam bidang arsitektur dan sebagainya pertunjukan barong mendapat tempat atau merupakan bagian yang cukup menonjol.

Dalam hubungan dengan arsitektur tidak jarang wajah barong terpampang sebagai ornamen bagian dari bangunan tertentu yang memberi arti tersendiri. Disamping wujud barong itu sendiri juga menampilkan seni arsitektur dan seni rupa lainnya.

Memperhatikan perubahan dan perkembangan kehidupan masyarakat yang tidak lepas dari proses globalisasi dewasa ini, dengan sendirinya pula akan memberi dampak pada berbagai aspek termasuk kesenian barong itu sendiri. Dengan demikian kesenian barong kiranya patut mendapat perhatian, mengingat telah lama bersentuhan dengan unsur-unsur budaya luar seperti halnya kesenian yang lain.

Kehadiran mithologi baik lewat tradisi-lisan maupun tulis, setelah dihayati oleh orang-orang yang memiki data kreativitas dan aktivitas serta bakat yang memadai tidak mengherankan bahwa bisa jadi menimbulkan ide atau gagasan-gagasan yang dapat menelorkan hasil karya seni. Bisa terjadi adanya hubungan saling mempengaruhi antara mithologi sarana dan ide tersebut yang pada gilirannya akan muncul suatu hasil karya yang berbobot.

Demikianlah halnya barong sebagai hasil produk seni rupa dan juga merupakan sarana bagi suatu pertunjukan baik dalam bentuk pameran maupun tontonan.

BAB II

Permasalahan, Metode dan Landasan Teori

  1. 1. Permasalahan

Karena banyaknya jenis dan macam barong antara lain seperti apa yang disebut barong landung, barong camaning, barong macan, barong bangkal, barong sampi, barong asu (anjing), barong gajah, barong ket dan sebagainya. Tetapi pada kesempatan ini sebagai sampel pembicaraan hanyalah barong ket yang tidak kalah tenarnya dalam kehidupan masyarakat luas. Secara keseluruhan mulai dari tapelnya yang diwarna dengan cat sampai keseluruhan rangkaian wujud barong itu sungguh megah tampaknya.

Disamping barong ket yang dikeramatkan dalam suatu Pura banyak juga terdapat barong ket yang sifatnya sikuler hanya berfungsi sebagai pajangan, hiasan rumah atau kantor demikian pula pemeran dan tontonan untuk wisatawan.

Demikianlah keberadaan barong ket sebagai tapel dan merupakan sarana seni pertunjukan.

Baik itu barong ket yang dikeramatkan maupun sikuler, apabila diperhatikan mulai dari mempersiapkan bahan, proses pembuatan, penyelesaian dan seterusnya sampai siap untuk ditampilkan dalam pertunjukan pemeran ataupun tontonan, sesungguhnya hasil karya seni barong tersebut dapat dikatakan sebagai wahana, transmisi dan transformasi nilai-nilai budaya yang amat berharga bagi kehidupan masyarakat Bali.

Supaya lebih sistematis, berikut ini akan diutarakan beberapa permasalahan, antara lain, ialah :

1)      Bahwa barong sebagai hasil karya seni, merupakan wahana bagi ide penciptanya dan sebagai simbol kebenaran atau lambang kebaikan dari kekuatan Çiwa, menurut sistem kepercayaan masyarakat Hindu di Bali.

2)      Pertunjukan barong sebagai media komunikasi antara penciptanya atau pelaku masyarakat dan lingkungannya.

3) Sejauh mana pertunjukan barong sebagai transmisi dan transformasi nilai-nilai   budaya dan ajaran agama Hindu, untuk diteruskan kepada penontonnya (pemeluknya).

2.  Metode

Sebelum sampai pada uraian selanjutnya, kiranya perlu diutarakan bahwa ada dua macam metode yang diterapkan antara lain metode untuk menghimpun data seperti : observasi, interview atau wawancara di samping teknik pendekatan secara partisipasi. Melalui metoda tersebut dapatlah dihimpun data kwantitatif dan kwalitatif yang dianggap cukup valid. Disamping itu diterapkan pula metoda analisis dilengkapi dengan teknik argumentasi.

  1. 3. Landasan Teori

Untuk mengkaji permasalahan tersebut di atas diterapkan beberapa konsep sebagai landasan teori diantaranya ialah : Teori Strukturallisme dan Fungsionalisme; Konsep Oposisi Pasangan (Binary Oposisi) dan Konsep Keseimbangan sebagai suatu pandangan hidup orang Bali, dengan demikian dapatlah diutarakan suatu analitis.

BAB III

Analisis

Tenarnya Bali di kawasan internasional selain karena keindahan alamnya juga karena masyarakatnya berkebudayaan tinggi. Salah satu ciri khas kebudayaan Bali yang menarik perhatian karena orang Bali mendambakan keharmonisan antara kepentingan keagamaan, kemasyarakatan dan wilayah tempat tinggal serta lingkungannya termasuk sumber kehidupan secara mendalam. Ciri-ciri tersebut sering muncul dalam wujud etis dan estetis. Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua unsur terintegrasi dalam adat istiadat Bali. Sejarah juga menjelaskan kehidupan seperti ini berakar dari masa pra Hindu. Kehadiran agama Budha dan Hindu di Bali berpangaruh serta menjiwai pertumbuhan dan perkembangan kehidupan masyarakat dan kebudayaannya. Sejak awal sampai masa kini pertumbuhan dan perkembangan tersebut seirama dengan dinamika perubahan masyarakat secara kompleks, terklarifikasi atas tiga periode yaitu masa “tradisi kecil”, “tradisi besar”, dan “tradisi modern”. (Swellengrebel, 1960, 29-31).

Berdasarkan bukti-bukti berupa benda peninggalan sejarah dapatlah diketahui tentang kehidupan dan sosial budaya masyarakat pada jamannya. Diantaranya seperti sistem kepercayaan, sistem kemasyarakatan, sistem mata pencaharian, teknologi dan pengetahuan dan lain-lain termasuk sistem kesenian.

Demikianlah terutama pada masa tradisi besar di Bali, dengan adanya pangaruh kebudayaan Hindu dan Budha, kebudayaan dapat tumbuh dan berkembang seirama dengan perubahan jaman.

Dalam buku Ensiklopedia Tari Bali mengutarakan bahwa bentuk tapel barong yang ada di Bali, nampak adanya suatu perpaduan antara kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Bali Kuno, khususnya kebudayaan Hindu yang bercorak Budha. Tapel-tapel barong seperti itu juga terdapat pada negara-negara penganut Budha seperti Jepang dan Cina. (Bandem, 1983, 29).

Dengan demikian sementara dapat diduga bahwa kesenian barong di daerah Bali dapat diperkirakan sudah populer sejak masa awal tradisi besar, yaitu sejak awal masa kebudayaan tradisional, seterusnya hidup dan berkembang sampai masa kini.

Sistem pengembangan dan pelestariannya sejak dulu sampai masa terakhir ini masih mengikuti pola-pola “Tradisi Lisan”. Maksudnya sistem belajar-mengajar kesenian dengan metoda peniruan “meniru adalah meguru”. Bagi seorang guru akan menjadi amat senang dan bahagia, bila muridnya dapat berhasil. Demikian pula murid-muridnya. Khususnya mengenai kesenian barong di Bali. Pada suatu sisi barong ket termasuk katagori seni tapel. Proses pembuatannya menunjukan suatu hasil karya seni rupa. Dalam hal ini si pencipta melalui suatu aktivitas dan kreativitas ingin mewujudkan gagasannya. Tidak mustahil bahwa ia selalu terikat pada situasi dan kondisi kehidupannya. Alam lingkungan, sistem sosial-budayanya, bahan dan peralatan produksinya sudah tentu mempengaruhi usahanya. Lewat hasil karyanya ia selalu ingin membuat sesuatu yang terbaik untuk disuguhkan kepada para pengamat dengan harapan memperoleh suatu dukungan dan penghargaan. Lebih jauh lagi diharapkan pula dapat berfungsi bagi kehidupan dalam arti luas.

Para seniman Bali yang masih memiliki alam pikiran tradisional, apabila berkarya lebih menonjolkan rasa pengabdian kepada masyarakat. Imbalan jasa yang diperolehnya dapat dibedakan menurut sifatnya, yaitu imbalan bersifat psikologis atau spiritual dan material. Ide atau gagasan yang diwujudkan berupa berupa tapel barong ket seperti tersebut di atas, diperoleh melalui pengalaman, belajar dengan berguru dan bergaul dimasyarakat. Beberapa orang seniman walaupun bersama-sama menciptakan tapel barong, tetapi masing-masing memiliki kekhasan (berbeda) antara satu dengan yang lainnya. Munculnya kekhasan atau kejiwaan tersebut pada suatu hasil karya seni biasanya tampak dari bentuk, pola dan struktur serta garis-garis penyelesaiannya luwes dan serasi komposisinya, dapat memberikan gaya tersendiri. Tambahan lagi adanya pemakaian warna atau “pepulasan” yang dapat dinilai seninya pula. Di Bali barong umumnya dibuat dari bahan-bahan antara lain seperti punggalan atau topengnya dibuat dari kayu pule dan ada juga dari kayu bentaro; bulunya dari “praksok” (serat daun tumbuh-tumbuhan praksok), adapula dari ijuk, bulu burung gagak dan bulu burung merak. Sedangkan bagian-bagian perhiasannya sampai pada ekornya dibuat dari kulit sapi yang dihaluskan dan bertatah ukiran-ukiran dipulas dengan cat warna emas (perada) dan ditempel dengan kepingan-kepingan kaca.

Pada sisi yang lain disamping barong sebagai hasil karya seni rupa seperti tersebut di atas juga berfungsi sebagai sarana seni drama tari dalam bentuk tontonan. Cukup penting peranannya dalam suatu pagelaran, terutama saat melakonkan tema ceritera yang mengandung makna “dharma” dan “adharma”. Diantara seperti pertentangan antara kebajikan dan kebatilan, sifat-sifat baik dan buruk dan sebagainya. Sebagai ilustrasi berikut ini akan diutarakan suatu pagelaran barong dengan tema ceritera “Kunti Sraya”. Di satu pihak barong dengan sifat-sifat baik, dan Rangda dengan sifat-sifat “pralina” atau menghancurkan.

Pertunjukan dengan tema ceritera “Kunti Sraya” terkenal disebut Tari Barong dan Keris. Tema ceritera ini mengandung filosofis keagamaan, kepercayaan pandangan hidup orang Bali, disamping mengandung nilai-nilai etika dan estetika. Ceritera Kunti Sraya adalah cuplikan dari ceritera Mahabharata yang mengisahkan Dewi Kunti sedang mengemban anak-anak menuju kedewasaannya. Penuh rintangan dan godaan. Rintangan dan godaan dengan segala macamnya, sesungguhnya datang dari pihak lawannya, ialah dari pihak Korawa yang senantiasa was-was akan kebesaran Pandawa dikemudian hari. Salah satu macam rintangan yang dialami Kunti ialah merupakan suatu kewajiban menebus dosa dengan beryadnya yang dipersembahkan kepada Bhatari Durgha, sebagai sakti Çiwa. Dalam kemelut seperti ini secara sadar sesungguhnya Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya sendiri, Sahadewa. Berkat pengaruh magic dari pihak lawan terhadap jiwa dan pikiran Kunti yang sedang kalut, akhirnya bersedia juga mengorbankan Sahadewa. Dan berkat kekuatan yang dianugrahkan oleh Çiwa maka Sahadewa luput dari cengkraman Dewi Durgha dan anak buahnya serta ia dapat meruwat Durgha kembali menjelma menjadi Dewi Uma.

Ceritra ini dikisahkan dalam bentuk pertunjukan, jalan ceriteranya diatur sedemikian rupa dengan berbagai variasi tanpa menghilangkan pokok ceriteranya, sehingga peranan Barong dan Rangda tetap tampil secara beroposisi.

Tari Barong dan Kris (Barong and Kris dance) seperti yang digelar setiap hari di Desa Singapadu misalnya. Tampaknya lakon ceritera Kunti Sraya diiringi juga dengan tabuh gamelan yang komunikatif. Sebagai ilustrasi jalan ceriteranya dimana barong pada babak pembukaan berperan sebagai harimau memakan manusia sebagai mangsanya. Pada babak pertama tampil dua penari mengikuti jejak para pengikut Dewi Kunti yang akan minta bantuan menuju tempat kediaman patihnya. Pada babak kedua para pengikut Dewi Kunti tiba ditempat yang ditujuannya. Tiada lama berselang salah seorang pengikut Rangda berganti rupa menjadi setan berupa “Pangpang” atau “Celuluk” lalu memasukkan pengaruh kekuatan magic bersifat jahat dalam pikiran para pengikut Dewi Kunti, sehingga menjadi garang dan keras kepala. Kedua petugas itu setelah menemui “Patih” selanjutnya bersama-sama menghadap Dewi Kunti. Dalam babak ketiga, muncullah Dewi Kunti diiringi anaknya Sahadewa. Pada kesempatan itu Dewi Kunti telah berjanji dengan Durgha akan menyerahkan Sahadewa untuk dijadikan kurban. Sesungguhnya Dewi Kunti tidak sampai hati menyerahkan putranya tetapi karena kesurupan roh jahat, pendiriannya menjadi berubah lalu mengambil keputusan berdasarkan emosi membara. Patihnya diperintahkan agar mengantar Sahadewa ke kuburan. Sahadewa diikat dengan tali pada pokok pohon kayu besar. Sahadewa bersikap pasrah sambil meratap dengan kesedihan terhadap Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Pada babak ke empat, Dewa Çiwa turun lalu menganugrahkan suatu kekuatan yang luar biasa dahsyatnya kepada Sahadewa. Seketika itu pula Sahadewa menjadi kebal dan sakti. Kehadiran Durgha pada kesempatan ini yang sedianya “menadah” (memakan dan menghaniaya) Sahadewa tetapi tidak mampu, Durgha berupa Rangda, menyadari bahwa dia telah kalah, akhirnya memohon kepada Sahadewa agar mau “meruwat” Durgha agar seketika bisa kembali ke sorga. Babak terakhir, pengikut Durgha pun yang bernama Kalika meminta agar dirinya “diruwat” juga oleh Sahadewa. Sahadewa menolaknya. Timbullah perkelahian dahsyat. Kalika berubah menjadi babi-hutan lalu kalah, berubah lagi menjadi burung Garuda, kalah juga, dan terakhir berubah lagi menjadi Rarung (Rangda Barak) dengan kesaktian yang menyamai Durgha, Sahadewa menunjukkan kekuatannya yang dianugrahi oleh Dewa Çiwa dengan berubah pula menjadi Barong. Oleh karena sama saktinya, pertarungan antara Barong melawan Rangda tidak ada yang kalah atau menang. Pertarungan tersebut memiliki sifat abadi antara kebajikan melawan kebatilan yang disertai dengan para pengikut Barong masing-masing membawa keris. Mereka hendak menolak kekuatan Rangda, namun tidak mampu. Itu berarti pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan, sesungguhnya tidak hanya terdapat di bhuwana agung (alam semesta) melainkan juga terdapat pada bhuwana alit (diri setiap orang). Dipertandai dengan “ngunying” atau “ngurek”, yaitu menusuk-nusuk diri dengan kris.

Memperhatikan rentang waktu kehadiran kesenian Barong di Bali, proses pembuatan sampai terwujudnya sebagai suatu hasil karya seni rupa, demikian pula penjelasan singkat mengenai jalannya pergelaran dengan menampilkan sebuah ilustrasi seperti terurai di atas, telah menunjukkan adanya pola-pola tertentu sesuai landasan konsep yang diterapkan pada bahasan ini.

Secara struktural kehadiran Barong sebagai seni rupa dan sarana seni pertunjukan atau pergelaran, merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali, dan merupakan warisan sejak jaman dulu. Kehadirannya tidak hanya bernilai guna praktis, yaitu untuk hiasan suatu tempat atau bangunan, malainkan juga memiliki nilai guna integratif bagi sekelompok orang atau masyarakat. Bahkan juga dapat dikatakan sebagai media komunikasi antara pencipta, masyarakat pendukung dan alam lingkungannya. Demikian juga Barong sebagai sarana seni tari. Para penonton dapat ikut berperan aktif memperhatikan dan mengamati konsep-konsep ajaran keagamaan, kemasyarakatan dan sebagainya yang ditransmisikan para pelaku lewat Barong sesuai tema ceriteranya. Dalam suasana suatu pergelaran seperti uraian diatas, Barong dapat berperan lebih dari satu, misalnya dapat sebagai macan (harimau) dan dapat pula sebagai Banaspati Raja (Raja Hutan). Di samping peranan pelaku memainkan Barong dengan pola-pola gaya tari yang memukau, perhatian penonton sangat penting artinya. Karya seni yang diciptakan seperti ini, dinikmati oleh masyarakat dan juga para pencipta dan pelakunya.

BAB IV

Simpulan dan Saran

1.   Simpulan

Seluruh uraian diatas, khususnya sesuai dengan sasaran, jangkauan dan batasan serta permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini, dapat disimpulkan antara lain :

  1. Barong Ket dilihat dari bentuk dan strukturnya adalah merupakan hasil karya seni rupa, sebagai wahana, gagasan atau ide-ide termasuk pula nilai-nilai budaya yang dianut seniman penciptanya.
  2. Barong Ket marupakan wujud binatang mitologi adalah sebagai simbol kebenaran dan lambang kekuatan Sanghyang Çiwa yang amat dahsyat dan bersifat penyelamat, beroposisi dengan sifat “pralina” atau memusnahkan, menurut sistem kepercayaan masyarakat Bali yang beragama Hindu.
  3. Pertunjukan Barong Ket dapat pula berperan sebagai media komunikasi antara pencipta, penari atau para pelaku dan masyarakat penontonnya.
  4. Pertunjukan Barong Ket, baik berupa pemeran yang dipajangkan, maupun berupa tari-tarian dengan segala variasi menurut tema ceriteranya, dapat dikatakan sebagai transmisi dan transformasi nilai-nilai budaya dan ajaran agama Hindu.
  5. 2. Saran

Demikianlah sekelumit tentang keberadaan Barong Ket dilihat dari sudut pandang terbatas menurut bentuk, struktur dan fungsinya dalam kesenian di Bali. Karena kehadiran Barong dan sebagai seni rupa, pertunjukan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali, patut diangkat selanjutnya diwariskan kepada generasi mendatang.


oleh : PUTU MUDIANTARA

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Siwaisme yang berkembang di India, merupakan asal mula dari agama Hindu. Berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Siwaisme di daerah Jammu dan Kashmir, di sekitar pegunungan Himalaya (Parwata Kailasa). Di wilayah Jammu dan Kashmir, terdapat lembah sungai Sindhu. Di lembah inilah cikal bakal kehadiran paham Siwaisme pertama kali di India, dan berkembang pesat ke seluruh India, dan wilayah diluar India, salah satunya adalah Indonesia.

Arti kata Saiva Siddhanta : Kata Saiva disini bermakna paham Siva, Sedangkan kata Siddhanta bermakna ajaran agama. Jadi Saiva Siddhanta adalah paham yang berisikan ajaran – ajaran dari Tuhan Siva. Jadi dapat dikatakan bahwa (paksha atau Sampradaya) itu adalah paham yang berkembang pesat di daerah India selatan. Begitulah perkembangan Siwaisme sebagai pembangkit spiritual di negara asli asal agama Hindu. Adapun inti sari dari paham Saiva Siddhanta adalah Saiva sebagai realitas tertinggi, jiva atau roh pribadi adalah intisari yang sama dengan Saiva, walaupun tidak identik. Juga ada Pati (Tuhan), pacea (pengikat), serta beberapa ajaran yang tersurat dalam tattva sebagai prinsip dalam kesemestaan yang realita. Siwaisme dalam paksha Saiva Siddhanta sangat taat dengan inti ajaran Wedanta.

Selanjutnya bagaimana paham Saiva di Indonesia, dan di Bali khususnya? Siwaisme yang eksis di Bali adalah bersumber dari salah satu sastra Hindu bernama Buana Kosa. Buana Kosa merupakan naskah tradisional Bali khususnya salah satu sumber pembangkit spiritual umat Hindu di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Karena Buana Kosa merupakan intisari ajaran Weda yang isinya kaya dengan Siwaisme, terutama Saiva Siddhanta yang berkembang pesat di India selatan. Buana Kosa dikatakan sebagai sumber suci pembangkit spiritual umat Hindu di Bali untuk umat Hindu secara umum maupun di kalangan orang suci (pandita atau sulinggih). Menjadi salah satu sumber suci bagi pemeluk Hindu di Bali, sekaligus cikal bakal dari sumber ajaran Hindu yang eksis sampai kini di Indonesia.

Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Saiva siddhanta. Beberapa sumber yang dimaksud adalah Bhuwana kosa,Wrhaspati tattwa,Tattwa Jnana,Ganapati tattwa,bhuwana Sang Ksepa,Siwa Tattwa Purana,Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Masih diperlukan banyak kajian mengenai Saiva Siddhanta yang diajarkan dalam susastra Hindu di Bali. Dari sekian banyak teks atau susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Dari segi isinya bahwa ajaran Saiva Siddhanta ada disuratkan dalam bahasa Sansekerta, Bahasa Jawa Kuna, Bahasa Bali, dan ada juga yang diterjemahkan artinya dalam bahasa Indonesia. Penerapan ajaran Saiva Siddhanta di Bali sesungguhnya telah kental diterapkan dalam kehidupan masyarakat beragama hindu di Bali sejak dahulu. Hal ini terlihat dari segi penerapannya di desa adat atau desa pakraman yang ada di Bali. Melalui pemujaan, persembahan, kegiatan ritual, dan sebagainya menampakan bahwa Saiva Siddhanta sangat dipahami dan diterapkan dengan baik oleh umat Hindu di Bali.

I.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas adapun rumusan masalah yang akan kita bahas dalam karya tulis ini adalah :

  1. Bagaimana Tuhan Siwa atau Siwa Loka dalam Lontar Tutur Gong Besi?
  2. Lingga merupakan lambang Tuhan Siwa?
  3. Peranan Padma Tiga di Besakih sebagai konsep Tuhan Siwa?

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari karya tulis yang berupa paper ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui bagaimana Siwa Loka dan Tuhan Siwa sebagai tujuan umat Hindu di Bali.
  2. Mengetahui lambang dari Tuhan Siwa dalam bentuk Lingga.
  3. Mengetahui dan memahami peranan Padma Tiga di Besakih sebagai konsep Tuhan Siwa,dalam hujud Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa itu sendiri.

I.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan paper Saiwa Siddhanta yaitu :

  1. Mahasiswa dapat mengetahui bentuk-bentuk  ajaran Saiva Siddhanta.
  2. Dapat mengetahui konsep daripada ajaran Saiva Siddhanta.
  3. Mengetahui lambang dan tempat pemujaan Tuhan Siwa,serta gelar beliau.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Tuhan Siwa atau Siwa Loka sebagai tujuan umat Hindu di Bali

Sastra agama Hindu di Bali sangat banyak diungkapkan mengenai ajaran Siwa. Dalam bahasa yang sederhana dikatakan, Pura Dalem adalah linggih dari Ida Bhatara Dalem sebagai dewa paling utama. Salah satu sastra agama yang menyebutkan hal demikian adalah Lontar Tutur Gong Besi.

Arti Kata Lontar Tutur Gong Besi : Lontar adalah daun pohon lontar, Tutur adalah petunjuk, Gong Besi adalah nama dari sebuah kitab suci Agama Hindu . Gong Besi termasuk kelompok naskah yang memuat ajaran yang Siwaistik. Di dalam naskah ini, disebutkan bahwa Bhatara Dalem patut dipuja dengan sepenuh hati, penuh rasa tulus iklas. Dalam setiap pemujaannya, Ida Bhatara Dalem dapat dihadirkan (utpeti puja), distanakan (stiti puja) dan dikembalikan (pralina puja). Persembahan bhakti yang utama kehadapan Ida Bhatara Dalem menyebabkan orang mendapatkan kemuliaan lahir dan batin, dan pada akhirnya akan mencapai surga loka atau siwa loka.

Arti Kata Surga Loka atau Siwa Loka : Surga Loka artinya kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi, Siwa Loka artinya Istana atau Stana Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Tuhan, Surga Loka atau Siwa Loka artinya mendapat kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi disisi Tuhan. Dalam hubungannya dengan sembah bhakti (pemujaan) kehadapan beliau, sebaiknya diketahui nama atau julukan beliau. Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana. Ketika beliau yaitu Ida Bhatara Dalem berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa, maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya disebut dengan Sanghyang Sapu Jagat.

Ida Bhatara Dalem ketika berstana di kuburan atau setra agung beliau dipuja dengan nama Bethara Dhurga. Ketika kemudian beliau berstana di tunon atau pemuwunan (tempat pembakaran mayat), maka beliau dipuja sebagai Sanghyang Bherawi. Ketika beliau dipuja di Pura Pengulun Setra, maka beliau dinamakan Sanghyang Mrajapati. Di laut, Ida Bhatara Dalem dipuja dengan sebutan Sangyang Mutering Bhuwana. Pergi dari laut kemudian menuju langit, beliau dapat dipuja dengan sebutan Bhuwana Taskarapati. Taskara adalah surya atau matahari, sedangkan pati adalah Wulan atau bulan. Kemudian ketika beliau berstana di Gunung Agung dinamakan beliau Sanghyang Giri Putri. Giri adalah gunung, putri adalah putra atau anak, yakni putra dari Bhatara Guru yang berstana di Sanggar Penataran, Panti Parahyangan semuanya, dan berkuasa pada seluruh parahyangan. Pergi dari Gunung Agung kemudian berstana beliau di Gunung Lebah, maka sebutan beliau adalah Dewi Danu. Ketika beliau berstana di Panca Tirtha atau pancuran air, maka beliau bernama Sanghyang Gayatri. Dari pancuran, kemudian menuju ke jurang atau aliran sungai, maka beliau kemudian dipuja dengan sebutan Betari Gangga.

Bhatara Dalem ketika berstana disawah sebagai pengayom para petani dan semua yang ada disawah, maka beliau dipuja dengan sebutan sebagai Dewi Uma. Di jineng atau lumbung padi beliau dipuja dengan sebutan Betari Sri. Kemudian didalam bejana atau tempat beras (pulu), Ida Bhatara Dalem dipuja dengan Sanghyang Pawitra Saraswati. Didalam periuk tempat nasi atau makanan, maka beliau disebut Sanghyang Tri Merta. Kemudian di Sanggar Kemimitan (Kemulan) yaitu tempat suci keluarga, Ida Bhatara Dalem dipuja sebagai Sanghyang Aku Catur Bhoga. Aku berwujud laki, perempuan, dan banci. Menjadilah aku manusia seorang, bernama Aku Sanghyang Tuduh atau Sanghyang Tunggal, di Sanggar perhyangan stana beliau. Disebut pula beliau dengan Sanghyang Atma. Pada Kemulan Kanan adalah ayah yakni Sang Pratma (Paratma). Pada Kemulan Kiri adalah Ibu, Sang Siwatma. Pada Kemulan Tengah adalah dirinya atau raganya yakni roh suci yang menjadi ibu dan ayah, nantinya kembali pulang ke Dalem menjadi Sanghyang Tunggal. Ida Bahtara Dalem adalah Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya. Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini, dan beliau adalah penguasa kematian, dalam air, cahaya, udara dan akasa, tidak ada yang dapat melebihi beliau. Sehingga beliau disebut dengan Sanghyang Pamutering Jagat. Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru atau Dewa Siwa itu sendiri sebagai sebutan Ida Sanghayng Widhi dengan segala manifestasi beliau. Dengan segala kemahakuasaan yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sebagai pemuja atau penyembah yang taat akan menyebut beliau dengan banyak nama sesuai dengan fungsi dan juga dimana beliau dipuja. Demikian disebutkan dalam Tutur Gong Besi.

II.2 Lingga merupakan lambang Tuhan Siwa

Lingga merupakan lambang Dewa Siwa atau Tuhan Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat.Di Indonesia khususnya Bali, walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak, akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga, yang sudah tentu bersifat umum.

Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga diidentikkan dengan : linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu, malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. (Agastia, 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu, lingga merupakan lambang kesuburan. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore, menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao, 1916 : 69). Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra, 1975 : 104).

Mengenai pemujaan lingga di Indonesia, yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono, 1973 : 40). Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan, sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa, maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme), di Indonesia. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di Kanjuruhan, Jawa Timur. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. (Soekmono. 1973 : 41-42). Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers, 1959 102).

Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga, yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan, kesuburan dan sebagainya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih, Pura-pura di Pejeng, di Bedahulu dan di Goa Gajah.

Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai berikut:
”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam sabdasparsadi warjitam”.

Artinya:
Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam).

Jadi dalam Lingga Purana, lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:

”Bhatara Siwalingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

Artinya:
Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa.

Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Siwa.

Bentuk Lingga

Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai  ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Jnana Siddhanta disebutkan:

“Pranalo Brahma visnus ca Lingotpadah Siwarcayet”.

Artinya:
Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa.

Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air, pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga, jadi lingga dan yoni. Kemudian lingga yoni, berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma, dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Sebuah lingga berdiri.

Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi, segi empat panjang, segi enam, segi delapan, segi dua belas, bulat, bulat telur, setengah bulatan, persegi enam belas dan yang lainnya. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao, 1916 :99). Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara), berbentuk telur (kukkutandakara), berbentuk buah mentimun (tripusha kara), berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara), berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao, 1916 : 93).

Jenis-Jenis Lingga

Berdasarkan penelitian dan TA. Gopinatha Rao, yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain :

- Chalalingga
- Achalalingga

Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak, artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah:

a. Mrinmaya Lingga

Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat, baik yang sudah dibakar. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu, tepung, gandum, serbuk cendana, menjadi adonan setelah beberapa lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama.

b. Lohaja Lingga

Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam, seperti : emas, perak, tembaga, logam besi, timah dan kuningan.

c. Ratmaja Lingga

Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti, permata, mutiara, kristal, jamrud, waidurya, kwarsa

.

d. Daruja Lingga

Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami, tinduka, karnikara, madhuka, arjuna, pippala dan udumbara. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira, chandana, sala, bilva, badara, dan dewadara.

e. Kshanika Lingga

Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam, beras, nasi, tanah pekat, rumput kurcha, janggery dan tepung, bunga dan rudrasha. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga, lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani, kumpulan kuliah-kuliah agama jilid I”, menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga, lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga, lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi, lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.A. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. II part I” dapat dijelaskan, sebagai berikut:

a. Svayambhuva lingga. Dalam mitologi, lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi, sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama).

b. Ganapatya lingga. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa, Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun, sitrun atau apel hutan.

c. Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.

d. Daivika lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang suci, dipakai oleh brahman).

e. Manusa lingga. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci, karena langsung dibuat oleh tangan manusia, sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama.

II.3 Padma Tiga di Besakih sebagai konsep Tuhan Siwa

Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhkha. Sadasiwa Tattwa ngaranya tanpa wwit tanpa tungtung ikang sukha. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan wenang winastwan ikang sukha.(Dikutip Dari Wrehaspati Tattwa.50)

Maksudnya:
Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa. Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988. Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan bahwa keberadan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu.

Busana hitam Padma Tiga yang berada di kanan atau yang mengarah ke Pura Batu Madeg itu bukan lambang pemujaan Wisnu. Tetapi pemujaan untuk Parama Siwa yang berada di luar alam semesta. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman artinya tanpa sifat atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol dalam Tuhan keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri atau yang mengarah pada Pura Kiduling Kreteg bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah dalam Pelinggih Padma Tiga yang di bagian kiri memang arahnya ke Pura Kiduling Kreteg. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti. Untuk di kompleks Pura Besakih sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg. Sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap. Di tingkat Pura Padma Bhuwana sebagai Batara Wisnu dipuja di Pura Batur simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Dipuja sebagai Bhatara Iswara di Pura Lempuhyang Luhur di arah timur dan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.

Sementara untuk di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Kahyangan Tiga. Mengapa ajaran agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat. Pemujaan pada Dewa Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi, serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina.

Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhakti-nya pada Tuhan. Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang, karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing.

Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan konsep asih. Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini. Di Mandala kektiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu ada bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah upacara padanaan dilangsungkan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Bhatara Turun Kabeh, upacara Ngusaba Kapat maupun upacara Manca Walikrama, apalagi upacara Eka Dasa Ludra.Upacara padanaan yang dipusatkan di Bale Kembang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca kepada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Weda kitab suci agama Hindu.

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Dalam lontar Bhuwanakosa dikatakan bahwa semua yang ada ini muncul dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga. Dengan demikian maka Bhatara Siwa adalah sumber segala yang ada, sama halnya dengan Brahman dalam Upanisad.

(Bhuwanakosa III, 82). Yatottamam iti sarvve, jagat tatva vva liyate, yatha sambhavate sarvvam, tatra bhavati liyate. Sakwehning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siwa ika, lina ring Bhatara Siwa ya.

Semua dunia ini muncul dari Bhatara Siwa, lenyap kembali pada Bhatara Siwa juga.
Segala yang muncul dari Bhatara Siwa itu sifatnya maya, bukan yang sesungguh nya dan merupakan dunia phenomena, yaitu dunia gajala yang tampak untuk sementara saja. Ibarat tampaknya bayang-bayang pada cermin, yang tampaknya saja ada namun sesungguhnya tidak ada, dan yang sesungguhnya ada berada di balik bayang-bayang itu. Adapun yang sembunyi di balik dunia ini, yang bersifat langgeng, hanyalah Bhatara Siwa sendiri.

III.2 Saran

Sebagai mahluk ciptaan yang paling utama hendaknya kita menjaga / memelihara dunia ini dan menjaga hubungan yang harmonis antara sesama. Semua ajaran tentang ke-Tuhanan sangat perlu kita pelajari agar kita dapat berbuat demi kemakmuran dunia. Seperti halnya ajaran Saiwa Siddhanta yang mengajarkan kita untuk memelihara dunia tempat kita terlahir, tumbuh, dan mati nantinya.


OLEH : TUDE MULYADI

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Manusia senantiasa mengalami pertumbuhan dan berkembang. Pertumbuhan merupakan perubahan secara fisiologi sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat. Perkembangan juga merupakan proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungannya. Dengankata lain perkembangan merupakan perubahan fungsional yang dipengaruhi oleh pencapaian tingkat kematangan fisik dan intelek. Masa remaja adalah masa yang khusus, penuh gejolak karena pada pertumbuhan fisik dan kehidupan lingkungannya terjadi ketidakseimbangan. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan fisik, intelek, emosi, berbahasa, sosial dan nilai remaja.

Dalam perkembangan anak-anak di jaman yang semakin kompeks ini banyak terdapat penyimpangan  prilaku yang terjadi pada anak-anak seperti tingkah laku yang bersifat nakal ataupun kenakalan-kenakalan. Sebagai suatu kalakuan perbuatan kenakalan yang sering menggemparkan akan tetapi tidak dibicarakan secara terbuka dapat disebutkan : mencuri.

I.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kita bahas dalam karya tulis ini adalah :

  1. Hal apa saja yang memicu terjadinya pencurian dikalangan anak-anak?
  2. Bagaimana peranan psikologi komunikasi dalam mencegah terjadinya kenakalan anak seperti kasus pencurian yang dilakukan anak-anak?

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari karya tulis yang berupa paper ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui apa yang memicu pencurian pada anak-anak.
  2. Mengetahui bagaimana peranan psikologi komunukasi dalam mencegah pencurian pada anak-anak.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Hal Yang Memicu Pencurian Di Kalangan Anak-Anak

Anak mempunyai dorongan yang hebat untuk mengumpulkan sesuatu. Dorongan untuk mengumpulkan sedemikian besarnya, hingga apa saja yang disimpan dan dikumpulkannya. Sering  terlihat anak mengumpulkan kertas pembungkus rokok, yang bagi orang lain hanya akan dibuang ke tong sampah. Keinginan anak untuk mengumpulkan benda-benda begitu hebatnya, sehingga perlu dibatasi oleh rasa menghormati hak milik pribadi. Mengetahui adanya hak milik orang lain dan menghormati hak milik itu, harus diajarkan kepada anak. Kelalaian dalam hal ini tentunya berarti kurang terbentuknya batas-batas antara hak milik pribadi dan hak pribadi milik orang lain, sehingga batas-batas itu akhirnya menjadi tidak jelas. Apabila niat spontan untuk mengumpulkan benda-benda tidak dihalangi, ditambah dengan tidak terbentuknya batas-batas hak milik, maka dengan mudah anak akan mengambil sesuatu yang bukan miliknya tetap milik temannya. Akhirnya kurangnya pembatasan keinginan mengumpulkan ”harta”, dan kurangnya latihan pengekangan keinginan-keinginan lainnya menyebabkan anak mudah terangsang untuk melakukan suatu ”pencurian”.

Mencuri yang disebabkan karena terdorongnya oleh keinginan-keinginan untuk memiliki sesuatu, dan itu cendrung terlihat di semua lapisan sosio-ekonomis. Dilapisan sosio-ekonomis yang rendah, keinginan untuk memiliki tidak disertai kemampuan untuk memenuhi sedemikian banyaknya keinginan itu maka akan timbulah pengambilan sesuatu tanpa sepengetahuan pemiliknya atau sering di sebut mencuri.

II.2 Peranan Psikologi Komunikasi Dalam Mencegah Terjadinya Pencurian Pada Anak

Komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka. Masalah pencurian pada anak dapat diselesaikan dengan melalui pendekatan kepada anak melalui komunikasi intrapersonal dan sebelumnya kita mestinya mengetahui beberapa hal yang mungkin dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya pencurian yang dilakukan oleh anak, yaitu:

  1. Berikan pengertian kepada anak tentang barang atau benda milik pribadi dan milik orang lain.
  2. Peran penting dari orang tua dalam memberikan contoh yang baik.
  3. Berikan latihan-latihan tentang pengekangan keinginan yang di ingini oleh anak, seperti,apa yang di ingini oleh anak tidak serta merta orang tua langsung mengabulkan keinginan anak tersebut.
  4. Peran penting dari orang tua atau saudara terdekat dalam mengawasi lingkungan dan pergaulan anak.

Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal dalam mencegah  terjadinya tindakan pencurian pada anak adalah:

1. Percaya (trust)

Dalam melakukan proses komunikasi dengan anak kita perlu menanamkan kepercayaan kepada para anak agar apa yang kita sampaikan kepadanya dapat diterima dan dipercayai oleh anak. Sehinngga untuk menumbuhkan kepercayaan itu kita harus memiliki beberapa hal yaitu :

a.   Karakteristik dan maksud orang lain, artinya kita memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang penanganan sifat mencuri.

b.  Hubungan kekuasaan, artinya apabila kita mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.

c.  Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi dengan anak. Beberapa ciri perilaku   suportif yaitu:

  1. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
  2. Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah kepada anak.
  3. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
  4. Empati: dapat menghargai milik orang lain yang tidak boleh diambil tanpa persetujuan pemilik.
  5. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri dan menghargai pendapat anak.

3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.

4. Orang tua dalam hal ini perlu menyadari kekeliruannya dalam sikap yang terlalu menekan anak. Anak pun harus disadarkan bahwa dengan kelakuan demikian dan perbuatannya yang suka mencuri akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang tua dan anak harus belajar saling mengerti satu sama lain. Masing-masing baik orang tua maupun anak harus memperbaiki kesalahannya. Melalui pendekatan secara psikologis dan komunikasi yang bagus, orang tua hendaknya memahami faktor kejiwaan dan emosi anak sesuai dengan umur dan tingkat kesalahannya, agar kesalahan yang sama atau tindakan mencuri yang dilakukan anak dapat diatasi dan ditanggulangi.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan

Anak harus disadarkan atau diingatkan bahwa perbutan mencuri tidak dapat  dibenarkan dan tidak boleh dilakukan lagi, pencurian dengan dalih bahwa dia mengambil apa yang memang haknya dapat berlngsung terus sampai masa dewasanya. Anak memperoleh rasa senang karena merasa dirinya berarti dan dapat berbuat sesuatu. Pada umumnya benda-benda yang diambil merupakan benda yang tidak berharga, misalnya pensil atau korek api. Tetapi bisa juga mereka mengambil benda yang berharga.

Biasanya anak yang mencuri sebagai suatu pembalasan terhadap orangtuanya yang terlalu ketat mengawasi dan menguasainya,mereka takut melawan orang tua, tidak berani memberontak terhadap kekuasaan orang tua secara terbuka,maka mereka membalas secara diam-diam,yaitu dengan mencuri benda berharga milik orang tua.

III.2 Saran-Saran

Pertama-tama harus dijelaskan bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan yang tidak terpuji, tidak dapat dibenarkan, suatu salah tindak. Suatu pencurian yang terjadi harus dihukum, justru untuk menitik beratkan dan menekankan perbuatan adil dan jujur. Kejujuran harus mendapatkan perhatian penuh sebagai suatu sifat mulia dan terpuji.

Selanjutnya orang tua harus menyelidiki kelakuannya sendiri. Harus diteliti apakah perbuatan orangtuanya selalu adil dan jujur. Dalam hal ini setiap ketidak jujuran dalam menghadapi anak, dengan dalih apapun,sama sekali tidak dapat di benarkan dan harus dihindari.


OLE H : WASISTA. P

Kasus pembobolan bank di Bali cukup banyak memakan korban. Kepolisian Daerah Bali baru menerima 19 laporan secara resmi dari mereka yang mengaku telah menjadi korban pembobolan rekening bank. Diduga para pelaku pembobolan mesin Anjungan Tunai Mandiri menggunakan skimmer, sebuah alat pencuri data nasabah.
Skimmer adalah alat verifikasi data saat pemilik kartu menjalani transaksi pembayaran. Saat kartu kredit digesek pada alat ini, maka seluruh data akan berpindah dan terekam. Satu skimmer bisa menyimpan data sampai 2.000 kartu. Ironisnya, skimmer ternyata dijual bebas di sejumlah pusat perbelanjaan yang ada dengan harga Rp 1,5 juta
Modus operasi para pembobol bank yakni memasang skimmer di mulut ATM. Setelah data nasabah didapat, pelaku tinggal memasukkan ke dalam kartu ATM bodong. Selanjutnya mereka dengan leluasa menguras uang nasabah. Pencurian uang nasabah dengan cara menggunakan alat yang disebut skimmer sudah lama terjadi.
Skimmer biasanya terletak pada slot tempat memasukkan kartu ATM. Pada slot itu ada lubang kecil tempat kamera tersembunyi yang dapat merekam aktivitas penarikan anda, termasuk ketika memasukkan nomor personal identification number (PIN)
Selain skimmer ada cara lain mencuri data-data nasabah yang disebut fishing. Para pelaku membuat situs palsu untuk memancing nasabah pengguna layanan internet banking. Para penjahat akan mengirim pesan elektronik (e-mail) yang seakan-akan datang dari operator bank. Isinya meminta Anda mengisi data-data kembali dengan alasan adanya kerusakan-kerusakan pada ATM Anda serta himbauan akan adanya  perbaikan system  keamanan.
Buntut dari penyelidikan terkait pembobolan ATM, Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara meringkus lima pembobol ATM. Menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Metro Jakut Komisaris Polisi Adex Yudiswan, para tersangka membobol lebih dari 3.000 nasabah selama tiga tahun terakhir. Polisi masih menyelidiki keterkaitan para tersangka dengan sejumlah kasus pembobolan ATM di Bali.

Liputan6.Jakarta, Nasabah beberapa bank yang kehilangan uangnya karena dibobol perampok di anjungan tunai mandiri (ATM) diminta tidak panik. Pasalnya, Bank Indonesia menjamin uang akan dikembalikan oleh bank bersangkutan jika terbukti hilangnya uang itu bukan karena kesalahan nasabah. Bahkan, jika bank bersangkutan menolak mengembalikan, sanksi akan diberikan berupa penutupan ATM bank tersebut.
Selain itu, BI juga mengakui, kartu ATM yang saat ini digunakan oleh banyak bank memiliki kelemahan. Kartu ATM berjenis gesek ini sangat mudah dibaca oleh alat pengkopi PIN yang disebut skimmer. Rencananya, BI akan mengganti kartu ATM gesek dengan kartu yang memiliki chip, kendati operasional kartu ini masih terbilang mahal.
Di atas semua itu, yang tetap diperlukan adalah kewaspadaan setiap nasabah. Banyak cara agar Anda terhindar dari pembobolan, yaitu dengan memperhatikan saran dari bank atau pihak kepolisian. Misalnya, mengganti PIN secara berkala serta tidak memberikan PIN kepada siapa pun, termasuk petugas bank.

Aksi pembobolan rekening nasabah melalui anjungan tunai mandiri (ATM), mulai berdampak kepada para nasabah. Sebagian dari mereka, beralih untuk menginvestasikan uang ke dalam bentuk emas. Bagi warga, emas dinilai lebih aman dibandingkan tabungan di bank. Selain itu, harga emas juga terbilang stabil. Pada Kamis (21/1), pertokoan di kawasan sentra perdagangan emas di Jalan Hasanudin, Denpasar, Bali, lebih ramai dan dijejali para pembeli. Sementara itu, korban pembobolan ATM di Kuta terus melaporkan kasusnya ke polisi. Di lain pihak, sebagian korban juga melaporkan adanya sejumlah uang yang masuk ke rekening mereka namun tak diketahui asal usulnya. Uang misterius ini hanya singgah sementara di rekening mereka sebelum hilang kembali tanpa bekas.
Hingga kini, jumlah korban pembobolan ATM yang melapor mencapai 19 orang. Mereka adalah nasabah Bank BCA, BNI, Bank Permata. kejadian perampokan atau pembobolan Bank yang terjadi dalam beberapa tahun terahir ini serta kasus yang terjadi di Bali beberapa hari lalu menandakan sistim keamanan Bank lemah dan perlu ditingkatkan dengan system yang lebih canggih misalnya dengan menggunakan CIP pada setiap kartu ATM dan memberikan pengawasan dengan memasang sisitivi disetiap tempat-tempat pengambilan uang, serta peranan pihak yang bertanggung jawab untuk memulihkan kepercayaan masyarakat ( Nasabah ) terhadap pihak Bank, serta peranan pemerintah yang dalam hal ini adalah pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini sampai tuntas dan menangkap pelaku dari pembobolan Bank yang terjadi.


oleh : PUTU MUDIANTARA


PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, kondisi remaja yang elum sepenuhnya memiliki pertimbangan yang matang itu emosinya cenderung tinggi (tidak stabil). Akulturasi budaya yang terjadi di suatu daerah, misaknya daerah Bali, disatu sisi akan memperkaya khazanah budaya, karena dari akulturasi itu tidak jarang akan menimbukan perkambangan budaya baru. Tentunya kenakalan remaja ini berdampak negative dan perlu dicarikan solusinya.

Kondisi kenakalan remaja tentunya semakin meningkat dan peran pergaulan remaja mampu mempengaruhi remaja dalam melakukan tindakan yang menyimpang, seperti kasus kenakalan remaja khususnya dalam hal bunuh diri. Belakangan, kasus bunuh diri di kalangan remaja belakangan mulai meningkat, sehingga hal ini perlu di atasi, salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan cara pendekatan psikologi komunikasi mlalui para remaja.

I.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kita bahas dalam karya tulis ini adalah :

  1. Apa saja alasan remaja melakukan kasus bunuh diri ?
  2. Bagaimana Cara Pencegahan Kasus Bunuh Diri Dikalangan Remaja melalui pendekatan psikologi komunikasi ?

I.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari karya tulis yang berupa paper ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui apa saja alasan remaja melakukan kasus bunuh diri
  2. Mengetahui bagaimana Cara Pencegahan Kasus Bunuh Diri Dikalangan Remaja melalui pendekatan psikologi komunikasi

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 . Alasan Remaja Melakukan Kasus Bunuh Diri

Profil anak dan remaja bunuh diri adalah Anak dan remaja yang mempunyai risiko bunuh diri, umumnya mempunyai profil atau ciri-ciri, di antaranya:

v     Dikenal lingkungannya sebagai anak “baik”.

v     Memiliki tuntutan kemampuan yang tinggi.

v     Punya minat dan keinginan tinggi.

v     Memiliki karakter perfeksionis atau selalu harus sempurna.

v     Kesulitan untuk dapat menerima kekurangan diri.

v      Prestasi akademik mulai kurang sampai di atas rata-rata.

Bunuh diri pada anak dan remaja sering berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat. Faktor pencetus yang mendahului tindak bunuh diri pada anak dan remaja umumnya karena:

v     Konflik dan pertengkaran dengan anggota keluarga (adik, kakak atau orang tua).

v     Menghindari atau antisipasi terhadap hukuman, misal dari orang tua, guru atau polisi karena kesalahan yang dibuatnya.

v     Kehilangan muka atau dipermalukan di depan teman-temannya.Pertengkaran dengan pacar atau putus cinta.

v     Kesulitan di sekolah baik akademis, hubungan interpesonal atau keuangan.

v     Perpisahan dengan orang yang berarti bagi dirinya.

v     Penolakan baik oleh orang tua, teman atau lingkungannya.

II.2. Cara Pencegahan Kasus Bunuh Diri Dikalangan Remaja Melalui  Pendekatan Psikologi Komunikasi.

Komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka. Kasus bunuh diri dikangan remaja dapat diselesaikan dengan melalui pendekatan kepada remaja melalui komunikasi intrapersonal dan sebelumnya kita mestinya mengetahui beberapa hal yang mungkin dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya bunuh diri, yaitu:
1. Jika seseorang berbicara tentang bunuh diri, kita harus menanggapinya dengan serius.
2. Doronglah mereka untuk mendapatkan pertolongan dari dokter mereka atau ruang emergency, atau telepon ke nomor darurat polisi, dsb.

3. Terapi dan pengobatan dapat menolong mereka yang mempunyai pemikiran untuk bunuh diri
4. Mengobati sakit mental dan substance abuse dapat mengurangi resiko bunuh diri.

Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal dalam mengatasi kasus bunuh diri dikalalangan remaja, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:

1. Percaya (trust)

Dalam melakukan proses komunikasi dengan remaja kita perlu menanamkan kepercayaan kepada para remaja agar apa yang kita sampaikan kepadanya dapat diterima dan dipercayai oleh para remaja. Sehinngga untuk menumbuhkan kepercayaan itu kita harus memiliki beberapa hal yaitu :

a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya kita memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang penaganan kasus bunuh diri.

b.  Hubungan kekuasaan, artinya apabila kita mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.

c.  Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku   suportif yaitu:

a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.

b. Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah kepada remaja. Mengajak orang lain bersama-sama mencegah kasus bunuh diri berlanjut.

c.   Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.

d.   Empati: menganggap orang lain sebagai persona.

e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.

f.   Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.

3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.

Komunikasi dalam upaya mencegah hal ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll. Selain itu kita juga dapat menjadi sahabat yang baik untuk mendengarkan keluhan mereka kemudian memberikan masukan yang tepat untuk meningkatkan adversity quotient para remaja di sekitar hidup kita. Tampilnya figur yang menentramkan sangat berpengaruh terhadap para remaja sehingga mereka mengerti tentang tujuan hidup mereka. Sahabat sebagai orang terdekatnya jika menggunakan konsep psikologi komunikasi maka dapat mencegah kasus bunuh diri.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1. Kesimpulan

Fenomena kasus bunuh diri dkalangan remaja menjadi masalah social yang patut untuk dikaji dan diselesaikan, Bunuh diri pada anak dan remaja sering berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat dan  kondisi serta beberapa factor penentu ternyata menjadi penyebab munculnya kasus bunuh diri dikalangan remaja.

Belakangan, kasus bunuh diri di kalangan remaja belakangan mulai meningkat, sehingga hal ini perlu di atasi, salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan cara pendekatan psikologi komunikasi melalui para remaja. Melalui pendekatan psikologi komunikasi diharapkan kasus bunuh diri dikalangan remaja dapat diselesaikan secara tepat berdasarkan teori – teori yang ada dalam psikologi komunikasi.

III.2. Saran – Saran

  1. Perlunya  pengkajian secara khusus oleh para akademisi untuk berunding mengenai upaya pencegahan kasusu bunuh diri dikalangan remaja.
  2. Sosialisasi mengenai pentingnya menjelma sebagai manusia oleh para penyuluh agama mestinya dilakukan agar kalangan remaja sadar akan arti kehidupan ini.
  3. Orang tua hendaknya semakin memperhatikan tingkah laku anaknya bukan malah menekannya, agar sang anak merasa nyaman di lingkungannya.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.